
Studi ungkap penyebab pergeseran garis batas pohon akibat pemanasan global

Foto yang diabadikan pada 15 Juni 2023 ini menunjukkan pohon-pohon raksasa di cagar alam nasional Ngarai Besar Yarlung Zangbo di wilayah Bome, Kota Nyingchi, Daerah Otonom Tibet, China barat daya. (Xinhua/Fei Maohua)
Garis batas pohon atau treeline berubah oleh pemanasan global, dengan pertumbuhan pohon menjadi lebih cepat 2-4 hari saat suhu musim semi menghangat 1 derajat Celsius, tetapi pertumbuhan semak belukar tertunda 3-8 hari.
Beijing, China (Xinhua) – Dalam 100 tahun terakhir, pemanasan global telah menyebabkan banyak hutan di dataran tinggi ‘bergeser’ ke atas. Sebuah penelitian baru-baru ini di China mengungkapkan alasan di balik fenomena tersebut.Tim peneliti dari Institut Riset Dataran Tinggi Tibet, yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China, menganalisis data pengamatan 8-10 tahun terhadap pohon dan semak belukar di kawasan yang sama di Tibet bagian tenggara.Mereka menemukan bahwa karena suhu musim semi menghangat 1 derajat Celsius, pertumbuhan pohon menjadi lebih cepat 2-4 hari, tetapi pertumbuhan semak belukar tertunda 3-8 hari. Respons yang berbeda terhadap menghangatnya suhu ini disebabkan semak jauh lebih sensitif terhadap lingkungan yang dingin daripada pohon.Studi ini telah diterbitkan dalam jurnal National Science Review.Tim peneliti kemudian melakukan meta-analisis global yang dikombinasikan dengan model pertumbuhan berbasis proses guna mengeksplorasi faktor pendorong pergeseran pertumbuhan sebagai respons terhadap menghangatnya suhu di 11 treeline alpin di Belahan Bumi Utara. Treeline atau garis batas pohon merupakan batas ketinggian tempat pohon tidak lagi dapat tumbuh.Analisis itu membuktikan bahwa pohon lebih sensitif terhadap semakin menghangatnya suhu musim semi dibandingkan semak belukar sebagaimana yang diperkirakan. Semak belukar justru lebih dipengaruhi oleh akumulasi suhu dingin dibandingkan pepohonan. Sejak 1990, pemanasan iklim telah mendorong pertumbuhan pohon di treeline alpin, sedangkan semak belukar tidak menunjukkan respons signifikan terhadap menghangatnya suhu.Tim peneliti mengatakan bahwa dengan latar belakang pemanasan global, laju menghangatnya suhu di dataran tinggi secara signifikan lebih tinggi dibandingkan di dataran rendah. Hal ini akan memperpendek musim tumbuh untuk semak belukar tetapi memperpanjang musim tumbuh bagi pepohonan. Ketidaksesuaian pertumbuhan tersebut dapat memberikan keuntungan kompetitif bagi pohon dibandingkan semak belukar dengan meningkatkan pertumbuhan, perolehan karbon, serta ketersediaan sumber daya, yang berpotensi menyebabkan pergeseran treeline semakin ke atas di daerah pegunungan yang dingin.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Mesir temukan sisa peninggalan benteng militer periode Ptolemeus dan Romawi di Sinai
Indonesia
•
05 May 2025

Studi baru suguhkan wawasan tentang evolusi manusia purba di Asia Timur
Indonesia
•
07 Apr 2025

Tim peneliti China catat terobosan dalam penanganan yang presisi untuk kanker tiroid
Indonesia
•
04 Nov 2024

Ilmuwan temukan fosil dinosaurus tertua yang hidup dalam kawanan
Indonesia
•
23 Oct 2021


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
