
COVID-19 – Studi baru temukan gejala kecemasan meningkat selama pandemik

Orang-orang yang mengenakan masker berjalan di sepanjang Fulton Street di New York, Amerika Serikat, pada 7 Desember 2022. (Xinhua/Michael Nagle)
Gejala depresi selama pandemik COVID-19 meningkat, terutama di kalangan individu wanita dan mereka yang berasal dari latar belakang pendapatan yang relatif lebih tinggi.
Los Angeles, AS (Xinhua) – Sebuah studi baru tentang anak-anak dan remaja menemukan adanya peningkatan gejala depresi selama pandemik COVID-19.Studi yang dipublikasikan pada Senin (1/5) di JAMA Network tersebut mengulas dan menganalisis 53 studi longitudinal yang melibatkan lebih dari 40.000 anak-anak dan remaja di 12 negara.Studi itu menemukan adanya peningkatan gejala depresi selama pandemik COVID-19, terutama di kalangan individu wanita dan mereka yang berasal dari latar belakang pendapatan yang relatif lebih tinggi.Temuan-temuan ini dapat memberikan informasi untuk kebijakan dan respons kesehatan masyarakat guna mengatasi masalah kesehatan mental, papar studi tersebut.Kadar oksigen otak
Sebuah riset tentang dampak COVID-19 oleh tim peneliti dari University of Waterloo, Kanada, menyebutkan bahwa Long COVID memiliki kaitan dengan penurunan kadar oksigen otak, kinerja tes kognitif yang lebih buruk, dan peningkatan gejala psikiatris seperti depresi dan kecemasan.Tim peneliti tersebut menggabungkan hasil dari dua studi paralel baru, yakni sebuah studi laboratorium yang melibatkan pencitraan dan pengujian kognitif terhadap kadar oksigen di otak, dan sebuah survei populasi nasional Kanada pada 2021 dan 2022.Studi laboratorium itu menemukan bahwa individu yang pernah mengalami penyakit COVID-19 simtomatik menunjukkan kinerja yang lebih buruk dalam dua tugas komputer. Tugas yang pertama mengukur inhibisi, sementara tugas kedua menilai pengambilan keputusan impulsif.Jika dibandingkan dengan mereka yang belum pernah terinfeksi, orang yang pernah terinfeksi menunjukkan kurangnya peningkatan saturasi oksigen di area otak yang normalnya digunakan dalam salah satu tugas itu, menurut studi tersebut.Sementara itu, survei populasi yang dilakukan terhadap lebih dari 2.000 warga Kanada berusia 18-56 tahun itu mempelajari kaitan antara COVID-19, fungsi kognitif, dan gejala psikiatris.Responden yang mengidap COVID-19 melaporkan kesulitan dalam berkonsentrasi dan sejumlah masalah dengan inhibisi, serta peningkatan gejala kecemasan dan depresi.Riset tersebut diterbitkan dalam jurnal Brain, Behavior, & Immunity - Health edisi Maret."Dua studi kami, dengan menggunakan metode yang sangat berbeda, menyoroti perlunya memahami berbagai ancaman dari penyakit COVID-19," ujar Dr. Peter Hall, penulis utama sekaligus peneliti di Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Waterloo."Kita masih perlu mengetahui lebih banyak tentang bagaimana faktor-faktor seperti vaksinasi memengaruhi arah Long COVID. Kita juga perlu mengetahui tentang bagaimana beberapa kondisi fisik seperti diabetes, obesitas, dan hipertensi dapat memengaruhi mekanisme dan hasil ini," kata Hall.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Malaysia mulai terapkan teknologi robot kurangi tenaga kerja asing
Indonesia
•
27 Jun 2020

Gerhana Matahari Cincin lintasi Indonesia pada 26 Desember 2019
Indonesia
•
12 Sep 2019

Teleskop Hubble NASA abadikan galaksi-galaksi superterang yang saling berinteraksi
Indonesia
•
04 May 2023

Presipitasi emas yang dipicu pirit tentukan pembentukan endapan emas berkualitas tinggi
Indonesia
•
24 Jan 2026


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
