
Gelombang laut bisa tempuh perjalanan 14.000 km tanpa henti, ilmuwan akhirnya berhasil melacaknya

Ilustrasi. (Matt Paul Catalano on Unsplash)
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim ilmuwan melacak gelombang laut yang dipicu oleh badai di Antarktika hingga mencapai Alaska, menandai pengukuran akurat pertama atas perjalanan sejauh 14.000 kilometer melintasi Bumi.
Menggunakan data dari 300 pelampung hanyut (drifting buoy), para peneliti melacak gelombang alun Samudra Selatan sejauh ribuan kilometer, yang mengungkap bagaimana badai di Antarktika memicu gelombang di seluruh dunia, papar sebuah pernyataan dari Universitas Melbourne (UniMelb) Australia yang dirilis pada Kamis (4/6).
Penelitian tersebut, yang didanai oleh Dewan Penelitian Australia (Australian Research Council), menemukan bahwa gelombang alun yang ditimbulkan oleh badai besar dapat bergerak sejauh ribuan kilometer, dengan gelombang yang lebih panjang melaju jauh lebih cepat daripada yang lebih pendek.
"Kami cenderung menganggap bahwa gelombang laut dihasilkan oleh angin di lingkungan sekitarnya," ujar Profesor Ian Young dari UniMelb, penulis utama dalam penelitian yang telah diterbitkan di dalam Journal of Geographic Research: Oceans tersebut.
"Faktanya, sejak 1960-an para ilmuwan telah mengetahui bahwa sebagian besar gelombang laut dihasilkan oleh angin kencang akibat badai di kawasan kutub, dengan mayoritas gelombang tersebut bermula di Samudra Selatan," tutur Young.
Pelampung-pelampung hanyut tersebut, yang berukuran sedikit lebih besar dari bola basket, hanyut bebas di lautan mengikuti arus dan gelombang alun sambil mengirimkan sinyal lokasi mereka setiap jam, ungkap penelitian yang melibatkan para peneliti dari Australia, Amerika Serikat (AS), China, Selandia Baru, Chile, dan Ekuador itu.
Tim peneliti menganalisis data 2023 dari wilayah Khatulistiwa, di mana kondisi angin yang ringan membuat sebagian besar gelombang laut di sana berupa gelombang alun dari badai di tempat yang jauh. Dengan menggunakan pelampung hanyut, para peneliti melacak gelombang-gelombang alun yang melaju dengan jarak satu sama lain mencapai 300 meter, dan mereka menemukan bahwa semua gelombang alun berasal dari badai.
Tim tersebut menemukan "gelombang terpanjang dan tercepat" membutuhkan waktu 12 hari untuk bergerak dari Antarktika ke Alaska, sedangkan gelombang yang lebih pendek membutuhkan waktu 15-17 hari, dengan ketinggian yang menyusut dari 10 meter menjadi hanya 10 sentimeter sepanjang perjalanan.
"Gelombang alun sulit untuk diukur, tetapi memiliki dampak yang signifikan terhadap banjir di pesisir, erosi pantai, rute pelayaran, dan atmosfer, karena kadar karbon dioksida di lingkungan dipengaruhi oleh gelombang laut," papar Young, yang memprediksi bahwa gelombang laut akan meningkat seiring pemanasan global, dipicu oleh badai di Samudra Selatan yang menjadi makin sering terjadi dan berukuran makin besar.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Obat anti-virus Rusia didaftarkan dalam waktu 3-5 bulan
Indonesia
•
25 Nov 2021

Ilmuwan sebut harapan hidup berpeluang meningkat hingga 120 tahun
Indonesia
•
01 Aug 2023

Tim ilmuwan berhasil tentukan waktu kepunahan massal 200 juta tahun lalu
Indonesia
•
07 Feb 2024

Ilmuwan China kembangkan bahan ferroelektrik sangat fleksibel untuk perangkat ‘wearable’ pintar
Indonesia
•
08 Aug 2023


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
