
Gigitan nyamuk bisa jadi ‘booster’ alami untuk cegah malaria, studi ungkap harapan baru

Pekerja India menyemprotkan asap antinyamuk di sejumlah area pada Hari Malaria Dunia di Tripura, India, pada 25 April 2018. (Xinhua/Stringer)
Melbourne, Agustus (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti di Australia menemukan cara baru untuk membantu mencegah malaria yang dapat mengubah gigitan nyamuk dari sumber infeksi mematikan menjadi penguat (booster) imun tubuh yang berkelanjutan terhadap penyakit tersebut.
Tim peneliti itu menunjukkan pendekatan vaksinasi baru yang dapat mempersiapkan sistem imun tubuh dalam melawan parasit malaria sebelum parasit tersebut menyebabkan penyakit, dengan gigitan nyamuk berikutnya bertindak sebagai penguat untuk meningkatkan kekebalan dari waktu ke waktu, demikian menurut pernyataan yang dirilis pada Jumat (14/8) oleh Walter and Eliza Hall Institute of Medical Research (WEHI) Australia.
Menurut penelitian yang telah dipublikasikan di dalam jurnal Science tersebut, pendekatan itu melindungi tikus dari malaria hingga dua tahun, periode yang mencakup dua musim malaria dalam kondisi dunia nyata.
Para peneliti mengembangkan strategi imunisasi baru yang menggabungkan parasit malaria yang ditularkan melalui nyamuk dengan senyawa obat antimalaria yang masih dalam tahap investigasi, yang dikembangkan oleh WEHI dan perusahaan biofarmasi MSD.
Senyawa tersebut mampu menjebak parasit malaria pada tahap akhir di hati, tepat sebelum parasit memasuki aliran darah dan menyebabkan penyakit, sehingga memicu respons imun yang kuat yang memberikan perlindungan jangka panjang terhadap malaria, tunjuk studi itu.
Tim peneliti menyatakan bahwa gigitan nyamuk berikutnya dapat memperkuat kekebalan tersebut, yang berpotensi memungkinkan pendekatan "vaksinasi dan penguatan kekebalan secara alami" di daerah-daerah endemik malaria.
Suntikan berjangka panjang yang berbasis pada senyawa-senyawa tersebut saat ini sedang dalam tahap pengembangan praklinis, kata tim itu.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), malaria diperkirakan menyebabkan sekitar 610.000 kematian di seluruh dunia pada 2024.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Penelitian sampel misi Chang’e-6 ungkap petunjuk baru tentang mekanisme oksidasi Bulan
Indonesia
•
18 Nov 2025

COVID-19 – WHO akan uji tiga obat baru untuk pengobatan
Indonesia
•
13 Aug 2021

Ilmuwan China temukan 2 mineral Bulan baru
Indonesia
•
25 Apr 2026

Kosmonot Rusia akan berjalan di luar ruang angkasa pada 19 Januari
Indonesia
•
11 Jan 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
