
Indonesia kian rentan siklon tropis akibat suhu laut meningkat

Seorang ayah dan anak laki-lakinya berjalan menerjang banjir di Kabupaten Badung, Provinsi Bali, pada 24 Februari 2026. (Xinhua/Dicky Bisinglasi)
Ancaman siklon tropis kini makin menghantui Indonesia, menyusul peningkatan intensitas dan pergeseran wilayah pembentukan siklon akibat perubahan iklim dan suhu laut yang semakin hangat.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan Indonesia kini semakin rentan terhadap ancaman siklon tropis.
Hasil riset BRIN terkini menunjukkan adanya peningkatan intensitas dan pergeseran wilayah pembentukan siklon akibat perubahan iklim dan suhu laut yang semakin hangat.
Temuan tersebut disampaikan oleh peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Yosef Prihanto, Kamis (5/3), dikutip dari situs jejaring BRIN, pada Sabtu.
Menurutnya, selama ini Indonesia dianggap relatif aman dari siklon karena letaknya dekat dengan garis khatulistiwa. Namun, kondisi tersebut kini berubah.
“Indonesia bukan lagi wilayah yang aman dari siklon. Suhu laut yang semakin hangat membuat peluang terbentuknya siklon semakin besar, bahkan lebih dekat ke wilayah kita,” jelas Yosef.
Berdasarkan analisis data 1990–2023, tercatat ratusan siklon terjadi di wilayah selatan Indonesia, dan puluhan di antaranya terbentuk di dalam wilayah Indonesia sendiri. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran pola yang perlu diwaspadai.
Peristiwa seperti Siklon Seroja pada 2021 menjadi contoh nyata dampak siklon tropis, yang memicu hujan ekstrem, banjir bandang, dan korban jiwa.
Riset BRIN juga menemukan kombinasi beberapa faktor cuaca global dan suhu laut yang lebih hangat membuat cuaca ekstrem lebih mudah terjadi dan berlangsung lebih lama.
Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, BRIN bersama BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) mengembangkan sistem prediksi berbasis kecerdasan buatan. Teknologi ini membantu memperkirakan potensi pembentukan siklon beberapa hari sebelum terjadi. Dengan demikian, pemerintah dan masyarakat memiliki waktu lebih panjang untuk bersiap-siap menghadapi potensi bencana.
“Pusat Riset Iklim dan Atmosfer mengembangkan model prediksi yang dapat membantu sistem peringatan dini menjadi lebih akurat. Dengan informasi yang lebih cepat dan tepat, risiko korban dapat ditekan,” ujar Yosef.
Selain penguatan teknologi, BRIN juga menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur dan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap informasi cuaca.
Upaya seperti pembangunan bangunan tahan angin, penguatan sistem drainase, serta rehabilitasi mangrove di wilayah pesisir menjadi bagian dari strategi adaptasi. Di sisi lain, masyarakat juga perlu memahami peringatan dini dan mengetahui langkah yang harus dilakukan saat terjadi cuaca ekstrem.
“Mitigasi tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat. Semakin siap kita hari ini, semakin kecil risiko di masa depan,” tegas Yosef.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim ilmuwan China rilis dataset untuk efisiensi penggunaan air di lahan pertanian global
Indonesia
•
23 May 2025

China akan miliki 220 zona teknologi tinggi nasional pada 2025
Indonesia
•
15 Sep 2022

Pesawat luar angkasa Tianwen-1 China masuki orbit sekitar Mars
Indonesia
•
11 Feb 2021

Ilmuwan ciptakan algoritme baru untuk tingkatkan pemantauan aerosol pada satelit FY-4A milik China
Indonesia
•
14 Feb 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
