
Studi: Pengurangan gas rumah kaca global dalam industri kertas perlu strategi beragam

Seorang pedagang menata kantong kertas di pasar Kimironko di Kigali, Rwanda, pada 14 Juli 2022. (Xinhua/Cyril Ndegeya)
Industri kertas global telah melepaskan 43,5 miliar ton karbon dioksida setara gas rumah kaca dari 1961 hingga 2019, dengan emisi bersih gas rumah kaca dari kegiatan ini menunjukkan kecenderungan untuk meningkat terlebih dahulu, kemudian menurun atau menjadi stabil.
Beijing, China (Xinhua) – Sekelompok peneliti mengevaluasi emisi bersih gas rumah kaca global dari industri kertas domestik di 30 negara besar dari 1961 hingga 2019 dan menemukan perbedaan signifikan dalam hal tren dan struktur evolusi emisi historis di negara-negara tersebut, ungkap sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature.Industri pulp dan kertas merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca yang signifikan. Strategi spesifik per negara sangat penting bagi industri ini untuk mencapai emisi net-zero pada 2050 mendatang, mengingat heterogenitas yang sangat besar di negara-negara tersebut, urai studi.Para peneliti dari Jurusan Ilmu dan Teknik Lingkungan Universitas Fudan bekerja sama dengan mitra internasional untuk menyiapkan kumpulan data emisi gas rumah kaca terkait industri kertas dan mengusulkan strategi untuk mencapai emisi net-zero pada 2050, dengan mempertimbangkan kondisi lokal negara-negara tersebut.Penelitian menunjukkan bahwa industri kertas global telah melepaskan 43,5 miliar ton karbon dioksida setara gas rumah kaca dari 1961 hingga 2019.Emisi bersih gas rumah kaca dari industri kertas secara global menunjukkan kecenderungan untuk meningkat terlebih dahulu, kemudian menurun atau menjadi stabil.Semua negara diperkirakan akan mencapai emisi net-zero untuk industri pulp dan kertas mereka pada 2050, dengan satu langkah diterapkan di sebagian besar negara maju dan beberapa langkah diterapkan di sebagian besar negara berkembang, papar studi itu.
Foto yang diabadikan pada 19 Desember 2019 ini menunjukkan sebuah pembangkit listrik fototermal yang dibangun di Gurun Gobi di Hami, Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut. (Xinhua/Feng Yang)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

LIPI temukan dua spesies baru anggrek dari Papua dan Sulawesi
Indonesia
•
04 Nov 2019

Spesies ikan belida di Jawa ditemukan kembali setelah dinyatakan punah
Indonesia
•
10 Dec 2023

Jumlah mikroplastik naik tiga kali lipat di jalur air Sydney dalam tiga tahun terakhir
Indonesia
•
28 Jan 2026

Internet satelit ‘broadband’ orbit rendah China diterapkan di luar negeri untuk pertama kali
Indonesia
•
24 May 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
