
Tim ilmuwan China kembangkan model AI baru untuk prakiraan siklon

Seorang pria mengayuh sepeda di tengah hujan setelah siklon Remal menerjang Distrik Nagaon di Negara Bagian Assam, India timur laut, pada 28 Mei 2024. (Xinhua/Str)
Intensifikasi cepat siklon tropis, yang mengacu pada peningkatan intensitas badai tropis secara signifikan dalam waktu singkat, masih menjadi salah satu fenomena cuaca yang paling menantang untuk diprakirakan karena sifatnya yang tidak dapat diprediksi dan destruktif.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan China berhasil mengembangkan metode kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) baru untuk memprakirakan intensifikasi cepat siklon tropis, memberikan wawasan baru dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana global.Belum lama ini, para peneliti dari Institut Oseanologi di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) memublikasikan penelitian tersebut dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.Intensifikasi cepat siklon tropis, yang mengacu pada peningkatan intensitas badai tropis secara signifikan dalam waktu singkat, masih menjadi salah satu fenomena cuaca yang paling menantang untuk diprakirakan karena sifatnya yang tidak dapat diprediksi dan destruktif.Menurut penelitian tersebut, metode prakiraan tradisional, seperti prediksi cuaca numerik dan pendekatan statistik, sering kali gagal mempertimbangkan faktor lingkungan dan struktural yang kompleks yang mendorong intensifikasi cepat. Meskipun AI telah dieksplorasi untuk meningkatkan prediksi intensifikasi cepat, sebagian besar teknik AI kesulitan menghadapi tingginya tingkat peringatan palsu dan reliabilitas yang terbatas.Untuk mengatasi masalah ini, para peneliti mengembangkan model AI baru yang menggabungkan data satelit, atmosfer, dan samudra. Saat diuji pada data dari periode siklon tropis di Pasifik Barat Laut antara tahun 2020 hingga 2021, metode baru ini mencapai akurasi 92,3 persen dan mengurangi tingkat peringatan palsu menjadi 8,9 persen.Metode baru ini meningkatkan akurasi sebesar hampir 12 persen dibandingkan dengan teknik saat ini dan mengurangi tingkat peringatan palsu hingga tiga kali lipat, mencerminkan kemajuan signifikan dalam prakiraan, menurut penelitian itu."Penelitian ini menjawab tantangan akurasi yang rendah dan tingkat peringatan palsu yang tinggi dalam prakiraan intensifikasi cepat," kata Li Xiaofeng, penulis utama penelitian tersebut."Metode kami meningkatkan pemahaman tentang peristiwa ekstrem ini dan mendukung pertahanan yang lebih baik terhadap dampaknya yang menghancurkan," tambah Li.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Saham CrowdStrike anjlok akibat gangguan TI global
Indonesia
•
20 Jul 2024

China keluarkan draf peraturan tentang manajemen teknologi pengenalan wajah
Indonesia
•
11 Aug 2023

Arab Saudi buka pendaftaran kompetisi teknologi layanan haji dan umroh
Indonesia
•
25 Feb 2022

China perkuat inovasi ilmiah dan teknologi dalam mesin dan peralatan pertanian
Indonesia
•
17 Aug 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
