
Keanekaragaman hayati padang rumput bantu kendalikan penyakit tanaman

Foto dari udara yang diabadikan pada 13 Juli 2021 ini menunjukkan pemandangan padang rumput yang dipulihkan di tepi Sungai Kuning di wilayah Maqu, Prefektur Otonom Etnis Tibet Gannan di Provinsi Gansu, China barat laut. (Xinhua/Chen Bin)
Keanekaragaman hayati padang rumput memengaruhi penyakit tanaman, dengan tingkat keparahan penyakit jamur daun semakin tinggi seiring hilangnya kekayaan hayati ekosistem tersebut.
Lanzhou, China (Xinhua) – Para peneliti China baru-baru ini mengonfirmasi pentingnya efek dilusi yang bergantung pada skala spasial keanekaragaman hayati pada penyakit tanaman di padang rumput, menurut Universitas Lanzhou.Studi baru tersebut mengungkapkan bahwa skala spasial memainkan peran penting dalam memprediksi penyakit tanaman menular, kata Liu Xiang, seorang peneliti dari Fakultas Ekologi Universitas Lanzhou yang menjadi pemimpin studi tersebut.Dengan latar belakang hilangnya keanekaragaman hayati secara cepat, penting secara teoretis dan praktis untuk lebih memahami hubungan antara keanekaragaman hayati dan penyakit tanaman menular. Tim studi tersebut menguji bagaimana skala spasial memengaruhi arah dan besarnya hubungan keanekaragaman hayati-penyakit.Para peneliti menggunakan eksperimen penambahan nitrogen jangka panjang yang dilakukan di sebuah padang rumput pegunungan di Provinsi Gansu, China barat laut, dan menguji bagaimana area sampel dipengaruhi oleh hubungan antara kekayaan spesies tanaman dan tingkat keparahan penyakit jamur daun.Temuan tersebut menunjukkan bahwa efek dilusi lebih mudah diamati di area kecil. Studi ini dapat membantu menjelaskan variasi yang diamati dalam hubungan keanekaragaman hayati-penyakit di padang rumput, papar Liu.Oleh karena itu, informasi spasial tersebut harus dihargai dalam kerangka ini untuk memprediksi penyakit menular di bawah skenario hilangnya keanekaragaman hayati secara cepat, imbuh Liu.Hasil studi itu telah dipublikasikan di jurnal Ecology.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

BRIN identifikasi 13 ‘geosite’ di Kebumen, Jawa Tengah, siap diajukan sebagai ‘geopark’ global UNESCO
Indonesia
•
01 Aug 2024

Peneliti dari China dan Pakistan kembangkan metode baru untuk obati penyakit ‘celiac’
Indonesia
•
29 May 2023

China gunakan sistem augmentasi berbasis satelit BeiDou dalam survei jalur kereta
Indonesia
•
16 Feb 2023

Ilmuwan Saudi temukan jejak kaki manusia berusia 120.000 tahun
Indonesia
•
17 Sep 2020


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
