
Survei ungkap lebih dari separuh perusahaan Jerman di AS berencana kurangi perdagangan

Deretan truk mengantre untuk memasuki Terminal Kontainer Tollerort di Hamburg, Jerman, pada 28 Mei 2025. (Xinhua/Zhang Fan)
Kebijakan tarif Trump menambah ketidakpastian bagi kalangan bisnis Jerman, baik bagi perusahaan yang beroperasi di AS maupun yang tidak.
Berlin, Jerman (Xinhua/Indonesia Window) – Lebih dari separuh perusahaan Jerman yang memiliki operasional di Amerika Serikat (AS) berencana mengurangi perdagangan dengan negara tersebut akibat kesepakatan tarif baru antara Uni Eropa (UE) dan AS, demikian ungkap hasil survei Kamar Dagang dan Industri Jerman (DIHK) pada Rabu (27/8).Survei terhadap sekitar 3.500 perusahaan Jerman itu menemukan bahwa 55 persen responden menilai kesepakatan tersebut menjadi beban berlebihan bagi perekonomian Eropa. Sementara itu, 54 persen perusahaan yang memiliki operasional di AS memperkirakan akan menurunkan volume perdagangan dengan AS.Perjanjian yang disepakati pada akhir Juli oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden AS Donald Trump tersebut memperkenalkan tarif 15 persen atas sebagian besar ekspor UE ke AS. Sebelumnya, Washington telah lebih dahulu memberlakukan tarif yang terus meningkat terhadap baja, aluminium, mobil, dan suku cadang kendaraan asal Eropa.Kepala Eksekutif DIHK Helena Melnikov menegaskan bahwa kebijakan tarif itu telah menimbulkan kerugian besar bagi para eksportir Jerman.Volker Treier, kepala perdagangan luar negeri DIHK, memperingatkan bahwa kebijakan perdagangan proteksionis AS bisa berbalik merugikan."Alih-alih mendorong hubungan ekonomi yang stabil dan iklim investasi yang menarik, AS justru semakin menunjukkan kekacauan akibat tarif serta ketidakpastian iklim bisnis," ujarnya.Treier mendesak Washington agar segera merealisasikan rencana pengurangan tarif pada sektor otomotif dan logam."Strategi untuk memaksakan reindustrialisasi melalui langkah proteksionis seperti tarif tidak berjalan efektif dari sudut pandang ekonomi Jerman," tambahnya.Survei tersebut juga menunjukkan bahwa kesepakatan tarif itu menghambat investasi. Lebih dari seperempat perusahaan yang beroperasi di AS menyatakan menunda atau bahkan membatalkan rencana investasinya.Treier menyatakan kebijakan tarif Trump menambah ketidakpastian bagi kalangan bisnis Jerman, baik bagi perusahaan yang beroperasi di AS maupun yang tidak."Tarif ini lebih banyak merugikan perekonomian AS daripada memberi manfaat. Konsumen AS pada akhirnya akan menanggung beban biaya impor. Mayoritas perusahaan yang beroperasi di AS akan membebankan biaya tambahan tarif itu, baik secara penuh maupun sebagian, kepada pelanggan mereka," jelasnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pedagang kebutuhan Imlek di Jakarta hadapi persaingan dengan ‘e-commerce’
Indonesia
•
15 Feb 2024

Perdagangan UEA–Indonesia tembus 5,4 miliar dolar AS, cakup energi hingga ekonomi digital
Indonesia
•
20 May 2026

Maskapai utama Jepang akan naikkan biaya penerbangan internasional mulai juni 2026
Indonesia
•
03 Apr 2026

Pasar kosmetik makin kritis, inginkan produk ramah lingkungan
Indonesia
•
28 Apr 2025


Berita Terbaru

Singapura bentuk Future of Finance Institute, percepat adopsi AI dan tokenisasi di sektor keuangan
Indonesia
•
26 Jun 2026

Chery Q kantongi lebih dari 3.000 prapemesanan, EV Compact berjarak tempuh 400 km
Indonesia
•
26 Jun 2026

Apple naikkan harga Mac dan iPad akibat lonjakan biaya cip memori, iPhone tetap tidak berubah
Indonesia
•
26 Jun 2026

Bank of China Hong Kong jadi bank kliring RMB di Indonesia, permudah perdagangan dan investasi bilateral
Indonesia
•
26 Jun 2026
