
Studi ungkap infeksi malaria ‘tanpa gejala’ lebih berisiko dari dugaan sebelumnya

Foto yang bersumber dari Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization/CSIRO) pada 5 Oktober 2021 ini menunjukkan nyamuk 'Aedes aegypti'. (Xinhua/CSIRO)
Malaria tanpa gejala dapat mengganggu fungsi kekebalan tubuh, menantang keyakinan lama tentang infeksi malaria tanpa gejala.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi yang dipimpin oleh Australia menemukan bahwa malaria ‘tanpa gejala’ dapat mengganggu fungsi kekebalan tubuh, menantang keyakinan lama tentang infeksi malaria tanpa gejala.Studi tersebut berfokus pada Plasmodium vivax (P. vivax), parasit malaria yang paling banyak tersebar dan merupakan hambatan utama dalam upaya eliminasi malaria secara global, menurut sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin (8/9) oleh Universitas Monash Australia.Menurut pernyataan itu, meskipun banyak orang di wilayah endemik malaria membawa parasit tanpa menunjukkan gejala, infeksi ‘tanpa gejala’ seperti ini selama ini dianggap menguntungkan karena dipercaya dapat menjaga sistem kekebalan tubuh dan mencegah penyakit muncul di kemudian hari.Namun, temuan baru tersebut, yang diperinci dalam jurnal Molecular Systems Biology yang diterbitkan oleh Organisasi Biologi Molekuler Eropa (European Molecular Biology Organization), menunjukkan bahwa infeksi subklinis ini sebenarnya dapat merusak sistem kekebalan tubuh.Para peneliti menggunakan sebuah pendekatan imunologi sistem untuk memeriksa sampel darah dari individu dengan infeksi P. vivax yang bergejala maupun yang tidak bergejala, dan menemukan bahwa kedua kelompok itu menunjukkan tanda-tanda disfungsi kekebalan tubuh, terutama pada monosit, sel yang memainkan peran kunci dalam melawan infeksi.Pada kasus yang menunjukkan gejala, gen-gen terkait monosit sangat tertekan, dan sel imun penting mengalami penurunan jumlah secara signifikan. Bahkan pada individu tanpa gejala, aktivitas gen yang berhubungan dengan fungsi monosit dan peradangan juga terganggu, papar studi tersebut.Studi ini menemukan adanya peningkatan aktivitas pada jalur antiperadangan dan reseptor pengatur sistem kekebalan, yang menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh mengalami penekanan aktif selama infeksi P. vivax."Malaria tanpa gejala lebih berisiko dari dugaan sebelumnya," karena dapat menekan fungsi kekebalan tubuh yang penting, yang berpotensi mengurangi kemampuan tubuh untuk membasmi parasit, melawan penyakit lain, atau merespons secara efektif terhadap vaksin, kata Diana Hansen, salah satu ketua Program Penemuan Infeksi di Universitas Monash.Penelitian tersebut memperluas pemahaman tentang dampak malaria terhadap sistem kekebalan tubuh dan menyoroti perlunya mempertimbangkan kembali strategi kesehatan masyarakat di wilayah endemik, mendorong pelaksanaan skrining dan pengobatan untuk menekan penularan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China berhasil petakan jaringan otak kera makaka
Indonesia
•
17 May 2024

Tim ilmuwan ungkap tomat adalah ‘induk’ dari kentang
Indonesia
•
01 Aug 2025

Teleskop besar China untuk deteksi eksoplanet akan resmi beroperasi pada 2026
Indonesia
•
10 Feb 2024

China dan Eropa jalin kerja sama dalam pengujian satelit-roket
Indonesia
•
17 Feb 2023


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
