Ilmuwan prediksikan material 2D ultrastabil baru untuk baterai yang bisa mengisi cepat, tahan lama

Ilustrasi. (Kumpan Electric on Unsplash)
Material telurida topologis (topological telluride) dua dimensi (2D) dapat secara drastis meningkatkan kinerja dan stabilitas baterai lithium-ion dan sodium-ion di masa depan.
Tianjin, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim ilmuwan global telah memprediksikan keluarga baru dari material telurida topologis (topological telluride) dua dimensi (2D) yang dapat secara drastis meningkatkan kinerja dan stabilitas baterai lithium-ion dan sodium-ion di masa depan.Penelitian tersebut, yang menggabungkan pemodelan teoretis mutakhir dengan kolaborasi global, dipimpin oleh para peneliti dari Universitas Tianjin di China. Hasilnya baru-baru ini telah dipublikasikan dalam jurnal Advanced Science.Material-material tersebut, yakni HfTiTe4, ZrTiTe4, dan HfZrTe4, diidentifikasi menggunakan perhitungan prinsip pertama (first-principle calculation), sebuah metode komputasional kuat yang memodelkan material berdasarkan struktur atomiknya. Simulasi menunjukkan bahwa lapisan-lapisan ultratipis ini dapat berfungsi sebagai anode maupun host katode sulfur, serta menunjukkan kinerja pengisian daya cepat yang luar biasa, juga stabilitas dan ketahanan termal yang tinggi."Hasil kami menunjukkan bahwa lapisan tunggal (monolayer) telurida dua dimensi memiliki potensi sangat besar untuk menyediakan daya bagi baterai generasi berikutnya yang dapat mengisi daya lebih cepat, memiliki kapasitas spesifik lebih tinggi, dan lebih tahan lama," kata Ji Kemeng, seorang peneliti di Universitas Tianjin. "Hasil penelitian ini membuka sebuah jalan baru dalam merancang material penyimpanan energi yang efisien menggunakan komputasi teoretis."Penelitian ini juga menunjukkan bahwa lapisan tunggal telurida tetap mempertahankan stabilitas struktural dan elektronik pada suhu hingga 227 derajat Celsius, sehingga mendukung penggunaannya dalam skenario yang menantang, seperti kendaraan listrik, penyimpanan skala industri, dan perangkat elektronik portabel yang mengalami siklus penggunaan berat atau pengoperasian pada suhu tinggi.Penelitian ini dilakukan melalui kerja sama dengan para ilmuwan dari Universitas Jiao Tong Shanghai, Universitas Zhejiang, Universitas Sao Paulo, Institut Teknologi Technion-Israel Guangdong, Universitas California Irvine, dan Universitas Teknologi Shenzhen.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Inti dalam yang padat di Mars beri petunjuk sejarah evolusi medan magnet
Indonesia
•
07 Sep 2025

Tim peneliti multinasional lakukan studi perubahan iklim di danau air asin tertinggi di dunia
Indonesia
•
09 Jun 2024

Detektor terahertz China tuai hasil di Antarktika
Indonesia
•
15 Mar 2023

Babi ada dalam pasta gigi hingga pesawat ulang alik
Indonesia
•
06 Sep 2019
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
