
Peneliti kembangkan plester untuk organ tubuh, fasilitasi pengantaran obat

Ilustrasi. (Myriam Zilles on Unsplash)
Metode pengantaran obat tradisional bekerja seperti mengirim paket ke kota yang tidak dikenal, sering kali tersesat atau berakhir di tempat yang salah. Namun kini, ‘plester pintar’ untuk organ tubuh dapat membuat pengantaran obat menjadi lebih tepat dan efisien.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana obat menemukan jalannya di dalam tubuh? Metode pengantaran obat tradisional bekerja seperti mengirim paket ke kota yang tidak dikenal, sering kali tersesat atau berakhir di tempat yang salah. Namun kini, para peneliti China telah mengembangkan ‘plester pintar’ untuk organ tubuh yang dapat membuat pengantaran obat menjadi lebih tepat dan efisien.Sebuah tim peneliti kolaboratif dari Universitas Beihang, Universitas Peking, dan institusi lainnya telah mengembangkan koyo (patch) elektronik yang berfungsi sebagai plester untuk organ tubuh.Menurut para peneliti, obat oral atau intravena yang ada saat ini sering kali mengambang di dalam aliran darah dan kesulitan untuk menemukan lokasi target yang tepat. Hal ini tidak hanya inefisien, tetapi juga dapat membahayakan organ-organ yang sehat dalam perjalanannya. Sementara itu, obat dengan molekul besar menghadapi tantangan yang lebih berat karena sering kali terhalang oleh membran sel, yang bertindak sebagai gerbang keamanan.Tim itu mengintegrasikan elektronik fleksibel dan teknologi pemrosesan mikro-nano untuk menciptakan patch ultra-tipis, yang setipis selembar kertas cetak biasa dan dapat ditempelkan langsung ke permukaan organ.Struktur patch yang unik itu memungkinkan catu daya nirkabel. Patch ini dapat melubangi membran sel dengan aman pada tegangan rendah dan, melalui kekuatan medan listrik ultra-tinggi yang terbentuk di dalam pori-pori nano, dapat mengantarkan molekul obat ke tempat target dengan cepat dan tepat."Ini seperti menciptakan jalan bebas hambatan untuk pengantaran obat," kata Chang Lingqian, seorang profesor di Fakultas Teknik Biologi dan Medis Universitas Beihang."Penelitian ini telah diterapkan dalam estetika medis dan perbaikan trauma kulit, dan ini sangat menjanjikan untuk perawatan masa depan untuk masalah kesehatan utama seperti kanker dan trauma," imbuh Chang.Temuan penelitian ini dipublikasikan di jurnal akademis internasional Nature pada 30 April.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026

Fosil 200 juta tahun ungkap hubungan antara telur serangga dan predator
Indonesia
•
11 Nov 2022

Peneliti: Gurun terbesar di China mungkin terbentuk 300.000 tahun yang lalu
Indonesia
•
22 Feb 2023

Bawang putih bisa tekan emisi metan ternak, dorong peternakan rendah karbon
Indonesia
•
20 Apr 2026


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
