
Tim ilmuwan China tingkatkan resolusi simulasi iklim-laut global jadi 1 kilometer

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 29 Maret 2025 ini menunjukkan garis pantai di bagian utara Laut Mati yang terletak sekitar 30 kilometer di sebelah timur Yerusalem. Permukaan air Laut Mati yang menyusut telah menyebabkan erosi garam bawah tanah, yang kemudian mengakibatkan runtuhnya tanah secara meluas dan membentuk banyak sinkhole di sepanjang garis pantai. (Xinhua/Gil Cohen Magen)
Model sirkulasi lautan global LICOMK++ memungkinkan simulasi langsung proses subskala meso di lautan. Tindakan ini seperti memasukkan ‘mikroskop’ ke dalam ‘peta lautan’ global, yang memungkinkan kita untuk menangkap secara tepat proses-proses dinamis yang kompleks seperti pusaran dan fron laut.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sekelompok ilmuwan China telah bersama-sama mengembangkan sebuah model sirkulasi lautan global dengan resolusi horizontal 1 kilometer, demikian dilaporkan Science and Technology Daily pada Kamis (8/5).Laut berfungsi sebagai pengatur energi dan penyerap karbon yang sangat penting dalam sistem iklim Bumi, menyerap lebih dari 90 persen suhu panas tambahan dari pemanasan global dan lebih dari 30 persen emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh manusia, menurut laporan tersebut.Dalam beberapa tahun terakhir, dengan meningkatnya frekuensi kejadian iklim ekstrem, simulasi dan pemahaman proses skala meso (mesoscale) dan subskala meso (sub-mesoscale) di lautan, seperti pusaran dan fron, telah menjadi kunci dalam meningkatkan keakuratan prediksi iklim.Model sirkulasi lautan global LICOMK++, yang dikembangkan oleh Institut Fisika Atmosfer Akademi Ilmu Pengetahuan China dan Laboratorium Laoshan, memungkinkan simulasi langsung proses subskala meso di lautan. Tindakan ini seperti memasukkan ‘mikroskop’ ke dalam ‘peta lautan’ global, yang memungkinkan kita untuk menangkap secara tepat proses-proses dinamis yang kompleks seperti pusaran dan fron laut.Proses dinamika laut skala kecil ini secara langsung memengaruhi transportasi dan distribusi panas dan zat-zat secara global, dan sangat penting untuk memahami dan memprediksi kejadian cuaca ekstrem seperti gelombang panas laut, topan, dan curah hujan ekstrem.Model tersebut memberikan dukungan teknologi yang memfasilitasi tata kelola iklim global dan memajukan pembangunan berkelanjutan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Luas es laut musim dingin Arktik makin mengecil
Indonesia
•
27 Mar 2026

Pecinta bawang bombai lebih jarang kena diabetes? Ini penjelasan ilmiahnya
Indonesia
•
18 Jun 2026

Mutasi genetika hambat pengobatan skizofrenia baru
Indonesia
•
05 Feb 2026

Reruntuhan kompleks lumbung di jalur air kuno ditemukan di China utara
Indonesia
•
24 Dec 2024


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
