
Ilmuwan China kembangkan molekul inovatif untuk pengobatan kanker yang presisi

Ilustrasi. (National Cancer Institute on Unsplash)
Molekul inovatif ‘vaksin intratumoral’ mampu mencegah sel kanker menekan fungsi kekebalan tubuh sekaligus mengarahkan kembali memori kekebalan yang telah ada di dalam tubuh untuk menyerang tumor.
Shenzhen, China (Xinhua/Indonesia Window) – Para peneliti China telah mengembangkan molekul inovatif yang disebut ‘vaksin intratumoral’ yang mampu mencegah sel kanker menekan fungsi kekebalan tubuh sekaligus mengarahkan kembali memori kekebalan yang telah ada di dalam tubuh untuk menyerang tumor, sehingga menawarkan pendekatan baru dalam pengobatan kanker.Para ilmuwan dari Laboratorium Teluk Shenzhen dan Universitas Peking melaporkan temuan tersebut dalam sebuah studi yang dipublikasikan secara daring di jurnal Nature pada Kamis (8/1).Meskipun terapi blokade titik kontrol imun (immune checkpoint) telah merevolusi pengobatan kanker dengan meningkatkan kemampuan sistem imun untuk menargetkan tumor, terapi ini masih tidak efektif bagi banyak pasien. Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya beban mutasi dan minimnya neoantigen, sehingga sel ganas pada banyak pasien lolos dari pengawasan sistem kekebalan.Tim peneliti kemudian memanfaatkan sumber daya imun yang selama ini relatif belum banyak dieksplorasi, yakni ‘sel T bystander’. Sel T ini terbentuk sebagai respons terhadap infeksi sebelumnya, seperti sitomegalovirus (CMV), dan meskipun tetap dalam kondisi dorman, sel-sel tersebut mempertahankan memori imunologis pada sebagian besar orang dewasa. Para peneliti mengajukan hipotesis bahwa jika tumor dapat dibuat menampilkan antigen CMV, sel T memori yang melimpah ini dapat dimobilisasi untuk melawan kanker.Untuk mewujudkan hal tersebut, tim merancang sebuah molekul sintetis yang disebut ‘intratumoral vaccination chimera’ (iVAC). Molekul dengan fungsi ganda ini secara permanen menargetkan dan mendegradasi protein PD-L1 pada sel tumor, yang secara efektif melepaskan rem sistem imun, sekaligus menghantarkan epitop antigen CMV. Dengan menandai tumor menggunakan ciri khas virus ini, iVAC mengarahkan kembali cadangan sel T anti-CMV dalam tubuh untuk mengenali dan menghancurkan sel kanker.Dalam uji pada model tikus maupun kelompok tumor yang berasal dari pasien, iVAC berhasil mengaktifkan sel T dan menunjukkan aktivitas antitumor yang kuat. Hasil ini menunjukkan potensi pemanfaatan memori sistem imun terhadap virus umum untuk terapi kanker.Saat ini, para peneliti tengah mengembangkan molekul translasional berdasarkan mekanisme yang diungkap dalam studi tersebut dan menargetkan untuk membawa teknologi ini ke tahap uji klinis di masa mendatang, kata Chen Peng, peneliti senior dari Laboratorium Teluk Shenzhen.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Iran mulai pembangunan PLTN baru
Indonesia
•
04 Dec 2022

Haji1441 - Layanan Robot Fatwa bagi jamaah tingkatkan protokol kesehatan
Indonesia
•
30 Jul 2020

COVID-19 – Rusia luncurkan produksi vaksin ketiga
Indonesia
•
26 Mar 2021

Ilmuwan China luncurkan purwarupa robot udara/terestrial untuk eksplorasi Mars
Indonesia
•
15 Feb 2025


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
