
Tim ilmuwan rancang lapisan baru untuk material tanah jarang agar bersinar saat dialiri listrik

Ilustrasi. (Dejan Nasteski on Unsplash)
Nanokristal tanah jarang sudah digunakan dalam beberapa aplikasi pencahayaan lantaran warnanya yang murni dan efisiensinya yang tinggi. Namun, secara alami, material ini bersifat isolator, artinya arus listrik tidak dapat mengalir melaluinya dengan mudah. Akibatnya, material ini belum banyak digunakan dalam perangkat listrik modern, seperti LED dan OLED.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim peneliti menemukan cara untuk membuat material tanah jarang tertentu, yang dikenal dengan cahayanya yang terang dan stabil, memancarkan cahaya ketika dialiri listrik secara langsung.Penelitian itu, yang dilakukan bersama oleh para peneliti dari Universitas Heilongjiang, Universitas Tsinghua, dan Universitas Nasional Singapura, telah dipublikasikan dalam edisi terbaru jurnal Nature.Nanokristal tanah jarang sudah digunakan dalam beberapa aplikasi pencahayaan lantaran warnanya yang murni dan efisiensinya yang tinggi. Namun, secara alami, material ini bersifat isolator, artinya arus listrik tidak dapat mengalir melaluinya dengan mudah. Akibatnya, material ini belum banyak digunakan dalam perangkat listrik modern, seperti LED dan OLED."Ini seperti mencoba berlari sambil mengenakan mantel musim dingin yang berat," kata Han Sanyang, seorang lektor kepala di Universitas Tsinghua. "Sifat isolator dari material-material ini membuat listrik sangat sulit untuk menjangkau dan mengaktifkan cahaya mereka."Untuk mengatasi kendala ini, tim peneliti merancang lapisan molekuler khusus yang berfungsi sebagai ‘lapisan konversi energi’. Lapisan tersebut membungkus setiap nanokristal, menangkap energi listrik, dan secara efisien mentransfernya ke unsur tanah jarang di dalamnya, yang kemudian memancarkan cahaya.Dengan pendekatan baru ini, nanokristal dapat menghasilkan warna cahaya yang dapat disesuaikan dan berkemurnian tinggi menggunakan listrik, ungkap Han."Penelitian ini membuka peluang untuk menggunakan material-material tersebut dalam berbagai skenario, seperti pemantauan kesehatan manusia, pengujian noninvasif, dan bahkan teknologi pencahayaan tambahan untuk tanaman," tambah Han.Tim peneliti saat ini sedang bekerja untuk semakin menyempurnakan teknologi tersebut, terutama untuk aplikasi perawatan kesehatan dan inframerah.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

NASA dan SpaceX luncurkan misi berawak ke ISS
Indonesia
•
06 Oct 2022

China tawarkan peluang kerja sama internasional melalui misi Chang'e di Bulan
Indonesia
•
25 Nov 2022

Situs fondasi bangunan kuno ditemukan di Beijing
Indonesia
•
09 Oct 2023

Ekskavasi terbaru situs manusia kera Yuanmou dimulai di China barat daya
Indonesia
•
24 Jul 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
