
Ilmuwan Australia ungkap gangguan pembersihan otak secara mandiri dapat picu Alzheimer

Ilustrasi. (Robina Weermeijer on Unsplash)
Neuron-neuron yang pertama kali terdampak Alzheimer mengendalikan aliran cairan pembersih limbah otak. Ketika neuron-neuron itu melemah, limbah akan menumpuk, dan kemungkinan akan memicu penyakit tersebut.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) - Tim peneliti Australia telah mengungkap hubungan yang sangat penting antara sistem pembersihan limbah otak dan kerusakan saraf paling awal pada penyakit Alzheimer.Penelitian itu membuka jalur baru bagi diagnosis dan terapi dini yang meningkatkan kemampuan otak dalam melakukan pembersihan mandiri sebelum terjadi kerusakan yang tidak dapat diobati, menurut pernyataan yang dirilis Universitas Queensland (University of Queensland/UQ) pada Rabu (25/6).Studi itu menemukan bahwa neuron-neuron yang pertama kali terdampak Alzheimer mengendalikan aliran cairan pembersih limbah otak. Ketika neuron-neuron itu melemah, limbah akan menumpuk, dan kemungkinan akan memicu penyakit tersebut, imbuh pernyataan itu.Studi yang dilakukan selama lima tahun dan melibatkan 25 orang berusia antara 60 hingga 90 tahun, termasuk 10 orang yang menderita gangguan kognitif ringan, dan model hewan tersebut mengungkap bahwa obat Alzheimer yang ada saat ini dapat memulihkan aliran pembersihan limbah otak secara parsial, mengindikasikan bahwa intervensi dini dapat memperlambat perkembangan penyakit.Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications itu menunjukkan bahwa neuron-neuron utama tersebut membersihkan toksin saat seseorang dalam kondisi terjaga, menantang gagasan bahwa proses ini secara umum berlangsung saat tidur, ujar Elizabeth Coulson dari Fakultas Ilmu Biomedis (School of Biomedical Sciences) dan Institut Otak Queensland (Queensland Brain Institute) UQ, selaku penulis senior studi tersebut.Temuan-temuan ini dikembangkan dari penelitian yang dilakukan Coulson selama 20 tahun, yang mencakup menghubungkan apnea tidur dengan kerusakan yang menyerupai Alzheimer dan mengidentifikasi p75NTR sebagai pemicu kematian saraf.Coulson menuturkan bahwa mereka sedang berupaya mengembangkan obat yang menyasar reseptor kematian sel p75 untuk mencegah kerusakan neuron, alih-alih hanya mengobati gejala demensia."Jika berhasil, itu akan menjadi terobosan dan dapat meningkatkan kualitas kehidupan ribuan nyawa," ujarnya. Sementara itu, Xia Ying dari Fakultas Ilmu Biomedis UQ, yang juga bertindak sebagai kolaborator dalam studi tersebut, sedang mengevaluasi efektivitas obat yang ada saat ini ketika diberikan lebih awal dalam lini masa penyakit tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Indonesia terapkan ‘cofiring’ biomassa tingkatkan bauran energi
Indonesia
•
18 Sep 2020

Studi baru temukan hubungan trauma masa kecil dengan kematian dan rawat inap COVID-19
Indonesia
•
04 Nov 2023

Peneliti ungkap cara ikan siput laut hadal beradaptasi di lingkungan bertekanan ultratinggi
Indonesia
•
23 May 2025

Ikan sturjen yang terancam punah terlihat di hulu Sungai Yangtze
Indonesia
•
21 Aug 2024


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
