
Memantau perubahan iklim di atap dunia

Observatorium Dasar Pengamatan Atmosfer Global China berdiri di Dataran Tinggi Qinghai-Xizang, China, dan sudah beroperasi selama 30 tahun. Observatorium tersebut merupakan satu dari 32 observatorium dasar global yang didirikan oleh Organisasi Meteorologi Dunia. Berdiri di ketinggian lebih dari 3.800 meter di atas permukaan laut di Gunung Waliguan, observatorium itu merupakan yang tertinggi dari jenisnya di dunia. (Xinhua)
Observatorium Dasar Pengamatan Atmosfer Global China yang berdiri di Dataran Tinggi Qinghai-Xizang, mampu menghasilkan lebih dari 60.000 data setiap harinya dan memantau komponen-komponen utama atmosfer.
Xining, China (Xinhua) – Observatorium Dasar Pengamatan Atmosfer Global China berdiri di Dataran Tinggi Qinghai-Xizang, China, dan sudah beroperasi selama 30 tahun.Observatorium tersebut merupakan satu dari 32 observatorium dasar global yang didirikan oleh Organisasi Meteorologi Dunia. Berdiri di ketinggian lebih dari 3.800 meter di atas permukaan laut di Gunung Waliguan, observatorium itu merupakan yang tertinggi dari jenisnya di dunia."Selama 30 tahun terakhir, beberapa generasi pakar meteorologi telah mengumpulkan sejumlah besar data pengamatan komposisi atmosfer melalui ketekunan dan dedikasi mereka. Data tersebut telah memberikan kontribusi yang besar terhadap respons global terhadap perubahan iklim," tutur Wakil Direktur Wang Jianqiong baru-baru ini, yang telah bekerja di observatorium tersebut sejak 2003.Suhu rata-rata tahunan di fasilitas tersebut berada di bawah 0 derajat Celsius, dan kandungan oksigen rata-rata tahunan setara dengan 67 persen dari yang ada di permukaan laut.Guna memastikan kualitas pengamatan di Waliguan tidak terpengaruh secara negatif, tidak ada perusahaan industri atau pertambangan yang dikembangkan dalam radius 50 kilometer. Adapun kota terdekat berjarak lebih dari 20 kilometer.Saat ini, observatorium tersebut mampu menghasilkan lebih dari 60.000 data setiap harinya dan memantau komponen-komponen utama atmosfer.Salah satu pencapaian paling signifikan dalam 30 tahun terakhir adalah "kurva karbon dioksida", yang juga dikenal sebagai "kurva Waliguan". Diperbarui setiap tahun, kurva itu diperoleh dari pengamatan di fasilitas tersebut.Data yang dihasilkan melalui kurva Waliguan konsisten dengan data observasi yang dikumpulkan oleh Mauna Loa Observatory di Hawaii sejak 1950-an. Pengamatan tersebut telah menjadi dasar penting untuk membuktikan perubahan iklim global dan mendukung Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Fregat Rusia yang dipersenjatai rudal hipersonik memulai tugas tempur
Indonesia
•
05 Jan 2023

China bangun ‘laboratorium super’ ekstrem, bantu ilmuwan dunia teliti misteri materi
Indonesia
•
27 Feb 2025

Studi ungkap pergerakan manusia 40 kali lebih besar dibandingkan gabungan seluruh hewan liar
Indonesia
•
01 Nov 2025

Studi ungkap kebisingan lingkungan pengaruhi pemilihan pasangan pada hewan
Indonesia
•
13 Aug 2022


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
