
Peneliti China dan Myanmar temukan bukti baru tentang terbentuknya Dataran Tinggi Qinghai-Tibet

Foto dari udara yang diabadikan pada 6 April 2020 ini menunjukkan Sungai Zayu di wilayah Zayu yang berada di Kota Nyingchi, Daerah Otonom Tibet, China barat daya. (Xinhua/Hou Jie)
Dataran Tinggi Qinghai-Tibet kemungkinan terebentuk oleh subduksi ganda, sebuah proses geodinamik ketika dua lempengan yang saling mengikuti bertumbukan secara bersamaan.
Jakarta (Indonesia Window) – Sejumlah ahli geologi dari China dan Myanmar menemukan bukti seismik baru untuk mendukung pemodelan yang menjelaskan bagaimana anak benua India hanyut ke utara dengan begitu cepat secara tidak wajar dan bertabrakan dengan Asia pada zaman kuno.Dirilis pada Sabtu (27/8) di jurnal Science Advances, penelitian itu mengungkapkan bahwa menutupnya Samudra Neo-Tethys di Era Mesozoikum (252-66 juta tahun lalu) yang kemudian diikuti oleh terbentuknya Dataran Tinggi Qinghai-Tibet kemungkinan disebabkan oleh subduksi ganda, sebuah proses geodinamik ketika dua lempengan yang saling mengikuti bertumbukan secara bersamaan.Para peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), Myanmar Geoscience Society, Universitas Yangon, dan Universitas Dagon melakukan investigasi resolusi tinggi terhadap struktur mantel Bumi bagian atas yang berada di bawah Myanmar.Kawasan Myanmar terletak di ujung timur sistem tumbukan India-Asia. Karena perubahan yang ditimbulkan oleh tabrakan benua lebih sedikit, kawasan ini merupakan tempat yang ideal untuk menyelidiki kemungkinan sisa-sisa lempengan dari subduksi ganda, urai penelitian tersebut.Untuk pertama kalinya, penelitian itu mengungkap adanya dua lempeng subduksi subparalel yang masih utuh di mantel Bumi bagian atas saat ini di bawah sistem tektonik Neo-Tethyan, mendukung model subduksi ganda Samudra Neo-Tethys.Sumber: XinhuaLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China masih jadi pasar robot industri terbesar di dunia
Indonesia
•
23 Aug 2024

China catat kemajuan dalam bidang internet satelit lewat terobosan pada roket ‘reusable’
Indonesia
•
15 Nov 2024

Vietnam terapkan ‘Artificial Intelligence’ di semua bidang
Indonesia
•
08 Mar 2022

COVID-19 - Ahli: Vaksin tak mungkin ada hingga 2021
Indonesia
•
14 Jul 2020


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
