
Peningkatan durasi musim panas sebagian besar disebabkan oleh aktivitas antropogenik

Foto menunjukkan pemandangan pegunungan yang diselimuti salju di wilayah Gilgit-Baltistan utara, Pakistan, pada 16 Oktober 2020. (Xinhua/Ahmad Kamal)
Peningkatan durasi musim panas yang tercatat hingga 15,06 hari pada 2000-2014, dibandingkan dengan yang pernah terjadi pada 1961-1975, lebih banyak disebabkan oleh aktivitas antropogenik, terutama yang menghasilkan gas rumah kaca.
Beijing, China (Xinhua) – Tim peneliti China telah mempelajari kekuatan-kekuatan eksternal pada peningkatan durasi musim panas dan menemukan bahwa hal itu sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia.Tim peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan China mendeteksi dan menganalisis faktor-faktor eksternal yang memengaruhi durasi musim panas di Belahan Bumi Utara antara tahun 1961 hingga 2014.Mereka menemukan bahwa durasi musim panas meningkat hingga 15,06 hari pada 2000-2014, dibandingkan dengan yang pernah tercatat pada 1961-1975, menurut artikel penelitian terbaru mereka yang dipublikasikan dalam jurnal Climate Dynamics.Dari tren perubahan dekade, perubahan durasi musim panas sebagian besar dipengaruhi oleh gas rumah kaca, aerosol, dan aktivitas alam pada 1960-an. Setelah 1970-an, efek gas rumah kaca secara bertahap menjadi faktor yang dominan.Peningkatan durasi musim panas sebagian besar dapat dikaitkan dengan aktivitas antropogenik, sedangkan aktivitas alam tidak banyak kontribusi, menurut artikel penelitian tersebut. Efek gas rumah kaca merupakan faktor antropogenik yang dominan dan menyebabkan peningkatan durasi musim panas sekitar 15 hari.Seruan dari Pakistan
Presiden Pakistan Arif Alvi pada Selasa (8/11) mengatakan bahwa dampak buruk dari perubahan iklim tidak terbatas di dalam wilayah suatu negara saja dan akan memengaruhi seluruh dunia, mendesak masyarakat internasional untuk bekerja sama demi kepentingan bersama."Dunia telah menjadi sebuah tempat yang kecil dan setiap perkembangan negatif seperti bencana alam atau bencana akibat ulah manusia yang terjadi di satu bagian dunia akan memengaruhi negara-negara lain di seluruh dunia," kata sang presiden saat berpidato dalam sebuah konferensi di Islamabad, Pakistan.
Foto menunjukkan sebuah daerah yang terdampak banjir di Distrik Jamshoro, Provinsi Sindh, Pakistan, pada 18 September 2022. (Xinhua/Str)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Festival salju besar Jepang digelar di Hokkaido
Indonesia
•
06 Feb 2023

Kebakaran di fasilitas pengolahan limbah Florida AS telah berlangsung sepekan
Indonesia
•
20 Feb 2023

Feature – Hotpot rasa Tom Yam Kung digemari di Yunnan, China barat daya
Indonesia
•
18 Dec 2023

Ribuan pengunjung festival Burning Man di AS kesulitan pulang usai terjebak dalam banjir lumpur
Indonesia
•
06 Sep 2023


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
