
Penelitian sebut nyamuk vektor virus demam berdarah ditemukan di dataran tinggi

Foto yang disediakan oleh Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation/CSIRO) pada 5 Oktober 2021 ini menunjukkan nyamuk Aedes aegypti. (CSIRO/Handout via Xinhua)
Penyebaran Aedes albopictus telah meluas hingga 1.500 meter di atas permukaan laut, namun penyebaran Aedes aegypti tetap tidak berubah.
Taipei, Taiwan (Indonesia Window) – Analisis Institut Penelitian Kesehatan Nasional Taiwan mengenai distribusi vektor nyamuk yang menularkan virus demam berdarah menemukan bahwa meskipun penyebaran Aedes albopictus telah meluas hingga 1.500 meter di atas permukaan laut, penyebaran Aedes aegypti tetap tidak berubah.Huang Chin-gi, peneliti dan direktur proyek dari Pusat Penelitian Pengendalian Penyakit yang Ditularkan Nyamuk Nasional mengatakan kepada CNA pada Kamis (9/5) bahwa Aedes albopictus telah ditemukan di daerah selatan County Budai di Distrik Chiayi, Taiwan, yang konsisten dengan temuan masa lalu.Pada tahun 2022, dua nyamuk Aedes aegypti ditangkap di wilayah utara – satu di County Beigang, Distrik Yunlin dan satu lagi di Stasiun Kereta Banqiao di New Taipei. Pada tahun 2023, satu ditemukan di County Jhongpu, Distrik Chiayi dan satu lagi di Stasiun Xinwuri Taichung.Huang mengatakan bahwa jejak nyamuk selanjutnya tidak ditemukan di daerah tersebut, yang menunjukkan bahwa nyamuk-nyamuk tersebut merupakan kasus terisolasi yang bepergian ke utara, kemungkinan besar berada di dalam kendaraan, dan tidak dapat bertahan hidup atau berkembang biak.Meskipun penemuan Aedes albopictus terjadi pada ketinggian 1.700 m pada tahun 2009-2011, sebagian besar nyamuk ditemukan pada ketinggian di bawah 1.500 m. Namun, penemuan baru-baru ini menunjukkan distribusinya telah meluas hingga mencakup wilayah yang lebih tinggi, kata Huang.Karena kini semakin sedikit orang yang tinggal di daerah pegunungan, perluasan tersebut diperkirakan tidak akan meningkatkan risiko demam berdarah secara signifikan, tambah Huang.Kementerian Lingkungan Hidup Taiwan menugaskan penelitian ini untuk menyelidiki bagaimana perubahan iklim dapat berdampak pada risiko penyakit.Penelitian menunjukkan bahwa dengan peningkatan suhu sebesar 1,5 derajat Celcius, titik paling utara tempat nyamuk berada dapat berpindah dari County Budai ke Distrik Taiping di Taichung di barat dan County Juisui di Distrik Hualien di timur.Dengan peningkatan suhu sebesar 2 derajat Celcius, batas keberadaan nyamuk dapat bergeser ke Distrik Beitun Taichung di barat dan Kota Hualien di timur.Jika suhu naik 2,5 derajat, batas tersebut bisa meluas hingga Distrik Tanzi di Taichung, menurut penelitian tersebut.Huang mencatat bahwa selain wadah seperti vas dan ember, 34,4 persen ban juga ditemukan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.Dia mengingatkan masyarakat untuk membuat lubang pada ban bekas jika ingin digunakan kembali agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.Huang menambahkan, telur nyamuk vektor dapat bertahan hidup di lingkungan kering hingga enam bulan dan menetas saat hujan kembali turun.Sumber: CNALaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

FAA akan investigasi kontrol kualitas Boeing
Indonesia
•
12 Jan 2024

Ilmuwan China capai terobosan besar dalam teknologi sel surya perovskit
Indonesia
•
11 Mar 2025

Ilmuwan China rancang robot inspeksi kecil yang mampu menggeliat
Indonesia
•
27 May 2022

Separuh Eropa dilanda kekeringan, hutan terancam kematian massal
Indonesia
•
29 Aug 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
