
Studi ungkap hubungan antara pencairan lapisan es bipolar asimetris dan perubahan iklim global

Foto yang diabadikan pada 22 Juni 2024 ini menunjukkan pemandangan gletser yang mencair di Svalbard, Norwegia. (Xinhua/Zhao Dingzhe)
Pertumbuhan lapisan es Antarktika dan perluasan es laut di Samudra Selatan atau Samudra Antarktika memicu Transisi Pertengahan Pleistosen (Mid-Pleistocene Transition/MPT), yaitu periode yang ditandai dengan terbentuknya lapisan es secara ekstensif dan penurunan suhu permukaan laut.
Xi'an, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi mengungkapkan peran penting pertumbuhan lapisan es Antarktika dan perluasan es laut di Samudra Selatan atau Samudra Antarktika dalam memicu Transisi Pertengahan Pleistosen (Mid-Pleistocene Transition/MPT), yaitu periode yang ditandai dengan terbentuknya lapisan es secara ekstensif dan penurunan suhu permukaan laut.Studi tersebut dilakukan oleh para peneliti di Institut Lingkungan Bumi (Institute of Earth Environment) yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), melalui kerja sama dengan para peneliti di institut-institut domestik dan internasional lainnya. Studi ini juga telah diterbitkan pada Kamis (1/8) di jurnal akademik internasional Science.Hasil studi ini menunjukkan bahwa terjadi pertumbuhan yang substansial pada lapisan es Antarktika 1,25 juta hingga 2 juta tahun yang lalu. Pertumbuhan lapisan es dan perluasan es laut terkaitnya di Samudra Selatan menyebabkan pendinginan di garis lintang tinggi di bagian utara, transfer kelembapan yang lebih kuat ke Belahan Bumi Utara, serta pertumbuhan lapisan es selanjutnya di Belahan Bumi Utara, sehingga memicu MPT.Menurut An Zhisheng, seorang akademisi CAS, studi ini akan berkontribusi pada evaluasi pemanasan global modern, yang telah menyebabkan pencairan lapisan es bipolar asimetris. Lapisan es di Belahan Bumi Utara dan es laut di Samudra Arktika sedang mengalami pencairan yang semakin cepat, sementara kriosfer Antarktika mencair dengan kecepatan yang relatif lambat, papar An.An mengatakan bahwa studi ini akan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mengevaluasi hubungan antara pencairan lapisan es bipolar asimetris dengan perubahan iklim global secara kuantitatif.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti China temukan spesies cumi-cumi vampir baru
Indonesia
•
12 Jul 2024

Model AI terbaru mampu tingkatkan akurasi prediksi kematian jantung mendadak
Indonesia
•
09 Jul 2025

Ilmuwan China lakukan eksperimen deteksi lapisan es di Antartika
Indonesia
•
14 Mar 2025

Feature – Industri teh di China timur terapkan digitalisasi dan pengembangan ramah lingkungan
Indonesia
•
22 Jun 2024


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
