
Ilmuwan gunakan teknologi ‘deep learning’ untuk prediksi akurat es laut Antarktika

Foto yang diabadikan pada 1 Februari 2020 ini menunjukkan gletser di Laut Weddell di lepas pantai Benua Antarktika. (Xinhua/Liu Shiping)
Prediksi area es laut (sea ice area/SIA) dan cakupan es laut (sea ice extent/SIE) untuk Februari 2024 masing-masing sebesar 1,441 juta kilometer persegi dan 2,105 juta kilometer persegi, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan rekor terendah sepanjang sejarah yang teramati pada 2023 lalu.
Beijing, China (Xinhua) – Tim ilmuwan China membuat prediksi yang akurat terkait es laut Antarktika untuk Desember 2023 hingga Februari 2024 menggunakan metode pembelajaran mendalam (deep learning).Tim penelitian tersebut memanfaatkan jaringan neural Memori Jangka-Pendek Panjang Konvolusional (Convolutional Long Short-Term Memory/ConvLSTM) untuk membuat model prediksi es laut Antarktika berskala musiman.Perkiraan mereka mengindikasikan bahwa es laut Antarktika akan tetap mendekati titik terendah dalam sejarah pada Februari 2024, namun kemungkinannya untuk mencatatkan rekor terendah baru lebih kecil. Prediksi area es laut (sea ice area/SIA) dan cakupan es laut (sea ice extent/SIE) untuk Februari 2024 masing-masing sebesar 1,441 juta kilometer persegi dan 2,105 juta kilometer persegi, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan rekor terendah sepanjang sejarah yang teramati pada 2023 lalu.Tim yang dipimpin oleh para peneliti dari Universitas Sun Yat-sen dan Laboratorium Ilmu Pengetahuan dan Teknik Kelautan Selatan Guangdong (Zhuhai) itu menyerahkan hasil prediksi mereka pada Desember 2023. Hasil itu telah dipublikasikan dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences pada awal Februari 2024.Prediksi mereka kemudian divalidasi oleh pengamatan satelit terbaru untuk Februari 2024. Nilai SIA dan SIE yang teramati untuk Februari 2024 masing-masing sebesar 1,510 juta kilometer persegi dan 2,142 juta kilometer persegi.Menurut tim peneliti tersebut, perbandingan antara hasil prediksi dan observasi itu menunjukkan kesesuaian yang sangat dekat. Selain itu, SIA dan SIE dari Desember 2023 hingga Februari 2024 berada dalam satu deviasi standar dari nilai-nilai yang diprediksi. Ini menggarisbawahi keandalan sistem perkiraan tersebut.Perbandingan yang meyakinkan antara data prediksi dan observasi itu memvalidasi keakuratan model ConvLSTM dan potensinya dalam memperkirakan es laut Antarktika secara andal, ujar tim peneliti tersebut."Keberhasilan prediksi kami tidak hanya menggarisbawahi pentingnya memperkuat penelitian prediksi es laut Antarktika, tetapi juga menunjukkan potensi yang substansial dari penerapan metode deep learning pada bidang yang sangat penting ini," tutur Yang Qinghua, profesor dari Universitas Sun Yat-sen.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Aplikasi Telegram luncurkan panggilan video dengan enkripsi
Indonesia
•
16 Aug 2020

Burung ibis rokoroko langka kembali ke lahan basah China utara setelah 15 tahun menghilang
Indonesia
•
10 Aug 2025

Ilmuwan China ciptakan cip serat sehalus benang di shanghai
Indonesia
•
23 Jan 2026

China kirim antena pertama untuk dukung pembangunan sistem teleskop radio terbesar di dunia
Indonesia
•
01 Aug 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
