
Penelitian China ungkap adaptasi imun dan metabolisme pada pendaki di altitudo tinggi

Foto dokumentasi yang diabadikan pada 18 April 2021 ini menunjukkan Zhang Hong mendaki Gunung Lobuche di Nepal. (Xinhua/Ding Liang)
Sel kekebalan tubuh manusia mengalami pemrograman ulang metabolisme di lingkungan altitudo tinggi ekstrem, meningkatkan kapasitas antioksidannya. Adaptasi ini sangat penting untuk mempertahankan fungsi dasar sel imun.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Para peneliti China baru-baru ini mengungkap perubahan dinamis yang terjadi pada sistem kekebalan tubuh dan metabolisme manusia saat melakukan pendakian di altitudo tinggi, menawarkan perspektif baru tentang tantangan fisiologis yang dihadapi pendaki gunung di altitudo tinggi.Para peneliti dari BGI Research menggunakan teknik pendeteksian omik seluler dan spektrometri massa untuk memeriksa perubahan multiomik pada 11 pendaki gunung saat mereka mendaki. Temuan mereka telah dipublikasikan dalam jurnal Cell Reports.Penelitian tersebut melibatkan pengambilan profil multiomik dari sampel darah para pendaki. Prosedur ini meliputi analisis transkriptomik sel tunggal terhadap 375.722 sel imun, serta lipidomik dan metabolomik plasma.Dengan menggunakan data yang komprehensif ini, para peneliti dapat memetakan lanskap sel tunggal dari sel imun perifer pada pendaki. Mereka mengamati perubahan signifikan dalam komposisi sel imun selama pendakian.Lebih lanjut, para peneliti mempelajari perubahan dinamis dalam hal proporsi sel imun, serta peran ekspresi gen, jalur fungsional, dan faktor regulasi transkripsi saat periode aklimatisasi di altitudo tinggi maupun pendakian gunung di ketinggian ekstrem.Temuan mereka mengindikasikan bahwa tubuh manusia dapat beradaptasi dengan kondisi ekstrem yang ditemukan di lingkungan altitudo tinggi melalui mekanisme imun dan metabolisme yang kompleks.Para peneliti juga menemukan bahwa sel kekebalan tubuh manusia mengalami pemrograman ulang metabolisme di lingkungan altitudo tinggi ekstrem, meningkatkan kapasitas antioksidannya. Adaptasi ini sangat penting untuk mempertahankan fungsi dasar sel imun.Selain itu, para peneliti menyebutkan adanya peningkatan metabolit plasma seperti glutamin dan asam lemak. Perubahan-perubahan metabolisme ini bisa menjadi mekanisme penting untuk membantu pendaki meningkatkan status energi mereka dalam kondisi altitudo tinggi.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Kosmonot Rusia akan disuntik vaksin Sputnik V
Indonesia
•
14 Dec 2020

Produsen baterai terkemuka China CATL luncurkan baterai ‘swappable’ baru
Indonesia
•
31 Dec 2024

Ilmuwan temukan sumber gempa bumi dan tsunami Indonesia
Indonesia
•
04 Mar 2020

Album Asia – Menikmati pertunjukan aerobatik di hari pertama Aero India 2023
Indonesia
•
14 Feb 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
