
Tim peneliti China kembangkan teknologi AI untuk bantu interpretasikan perilaku sosial hewan

Seekor monyet tupai mengambil makanan dari telur Paskah tiruan di Kebun Binatang London di London, Inggris, pada 5 April 2023. Hewan-hewan di Kebun Binatang London menikmati makanan yang disembunyikan di dalam telur Paskah tiruan sebagai suguhan istimewa untuk menyambut Paskah. (Xinhua/Li Ying)
Teknologi Social Behavior Atlas (SBeA) dapat mengidentifikasi hewan-hewan yang terlihat serupa dengan akurasi lebih dari 90 persen, sehingga tidak perlu lagi mendefinisikan kategori perilaku sosial terlebih dahulu, dan dapat membantu menemukan perbedaan baru yang belum terdefinisikan dalam perilaku sosial hewan.
Beijing, China (Xinhua) – Sebuah tim peneliti dari China berhasil mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dapat menjawab tantangan krusial dalam mendeteksi perilaku sosial hewan secara akurat, menurut Institut Teknologi Canggih Shenzhen (Shenzhen Institute of Advanced Technology/SIAT) yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China.Bagian tersulit dari analisis perilaku sosial multihewan adalah membedakan hewan yang terlihat serupa pada saat bersamaan.Teknologi baru itu, yang disebut Social Behavior Atlas (SBeA) dan dikembangkan oleh tim peneliti dari SIAT, dapat mengidentifikasi hewan-hewan yang terlihat serupa dengan akurasi lebih dari 90 persen, sehingga tidak perlu lagi mendefinisikan kategori perilaku sosial terlebih dahulu, dan dapat membantu menemukan perbedaan baru yang belum terdefinisikan dalam perilaku sosial hewan.Algoritma baru tersebut juga dapat secara efektif menyintesis sejumlah besar data baru dan melatih model dengan akurasi yang lebih tinggi, sehingga mendapatkan hasil estimasi gerakan sosial tiga dimensi (3D) yang lebih akurat, ujar Wei Pengfei, penulis korespondensi studi tersebut.Teknologi SBeA cocok untuk mengalkulasi secara akurat postur sosial 3D, identitas, dan modul sosial yang baik pada tikus, burung, dan anjing peliharaan, dengan potensi penerapan lintas spesies, ungkap Wei.Studi tersebut baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Nature Machine Intelligence.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pakaian antariksa baru untuk ‘extravehicular’ tingkatkan kenyamanan dan kemudahan bagi astronaut
Indonesia
•
01 Nov 2025

Astronom di Australia identifikasi kandidat planet mirip Bumi yang layak huni
Indonesia
•
28 Jan 2026

COVID-19 - LIPI uji klinis imunomodulator herbal
Indonesia
•
18 Aug 2020

Penelitian: Gempa Noto di Jepang picu lebih banyak likuefaksi ketimbang gempa besar 1995
Indonesia
•
11 Mar 2024


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
