
UEA: Serangan udara Israel yang terus berlanjut akan timbulkan ketidakstabilan lebih luas di Gaza

Foto yang diabadikan pada 13 Maret 2025 ini memperlihatkan tenda-tenda yang didirikan di antara bangunan-bangunan yang hancur di Beit Lahia, Jalur Gaza utara. (Xinhua/Mahmoud Zaki)
UEA berkomitmen mendukung upaya-upaya global dalam mencapai resolusi damai dan memastikan perlindungan bagi warga sipil di Gaza.
Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (Xinhua/Indonesia Window) – Serangan udara Israel yang terus berlanjut terhadap warga sipil dan permukiman di Gaza dapat menyebabkan ketidakstabilan yang lebih luas di daerah kantong tersebut serta menimbulkan risiko meningkatnya kekerasan di seluruh kawasan itu, demikian disampaikan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa (18/3).Kementerian tersebut menyerukan upaya untuk mencegah jatuhnya lebih banyak nyawa yang tak berdosa dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza, menghentikan tindakan hukuman yang berdampak pada warga sipil, serta menghentikan eskalasi, menurut laporan Emirates News Agency (WAM), kantor berita resmi UEA.Selain itu, pihak Kemenlu UEA juga mendesak komunitas internasional untuk "mendorong kesepakatan gencatan senjata yang baru" dan pemulihan akses listrik, pembukaan kembali perlintasan, dan pengiriman bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan serta tanpa hambatan kepada mereka yang membutuhkan di Gaza, kata WAM.
Warga Palestina yang mengungsi dari Kota Beit Hanoun, Jalur Gaza utara, terlihat di sebuah jalan di Gaza City pada 18 Maret 2025. Israel melancarkan aksi pengeboman mematikan di seluruh Jalur Gaza pada Selasa (18/3) dini hari waktu setempat, hingga menewaskan lebih dari 400 orang, setelah negara tersebut bertekad akan mengintensifkan serangan jika Hamas tidak membebaskan para sandera yang masih ditawan di daerah kantong itu. Menyusul serangan mematikan tersebut, tentara Israel mengeluarkan perintah evakuasi, yang mendorong warga Palestina mengungsi di tengah kekacauan. Juru bicara militer Israel yang berbahasa Arab, Avichay Adraee, meminta warga sipil untuk mengungsi ke barat. Sebuah peta yang dia unggah di platform media sosial X menandai seluruh perimeter di sekitar Gaza dengan warna merah, yang menunjukkan area tersebut sebagai 'zona pertempuran berbahaya'. Daerah-daerah yang menjadi sasaran termasuk Kota Beit Hanoun, Kota Khuza'a, dan pinggiran Abasan di Khan Younis. (Xinhua/Mahmoud Zaki)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Menlu Rusia: Konflik Ukraina akan berakhir dengan kesepakatan yang sesuai dengan Rusia
Indonesia
•
26 Feb 2025

Israel terima lebih dari 50.000 ton peralatan militer dan amunisi selama konflik Gaza
Indonesia
•
28 Aug 2024

MK Thailand copot PM Srettha atas pelanggaran etik
Indonesia
•
15 Aug 2024

Tanpa penjelasan, Jepang kirim peluncur rudal 1.000 km ke Kumamoto, pejabat daerah geram
Indonesia
•
11 Mar 2026


Berita Terbaru

AS intensifkan pengumpulan intelijen militer di lepas pantai Kuba
Indonesia
•
11 May 2026

Iran tolak proposal gencatan senjata AS, Trump sebut langkah itu "tidak dapat diterima"
Indonesia
•
11 May 2026

Para pemimpin ASEAN rilis pernyataan bersama soal krisis Timur Tengah di KTT ASEAN 2026
Indonesia
•
10 May 2026

AS-Iran kembali bentrok, AS tak ingin eskalasi
Indonesia
•
08 May 2026
