
Studi baru kaitkan badai debu super dan umpan balik radiatif aerosol

Sejumlah bangunan diterpa badai pasir di Tianjin, China utara, pada 28 Maret 2021. (Xinhua/Sun Fanyue)
Umpan balik radiatif debu menghasilkan perpindahan momentum ke arah bawah dan mendinginkan bagian timur laut Mongolia dengan memengaruhi angin zonal dan adveksi suhu. Lebih lanjut, level debu yang kuat bertahan dan terus menyebabkan konsentrasi debu yang tinggi di China utara melalui angin barat.
Lanzhou, China (Xinhua) – Tim peneliti China telah membuat kemajuan yang signifikan dalam studi tentang mekanisme umpan balik antara aerosol debu dan cuaca debu. Penelitian tersebut sangat penting dalam membantu upaya pencegahan dan pengendalian badai debu, menurut Universitas Lanzhou.Studi itu memberikan dukungan kuat bagi pemahaman yang lebih komprehensif tentang mekanisme umpan balik cuaca debu, menyempurnakan perkiraan debu dan kemampuan pengendalian debu, kata Chen Siyu, pemimpin studi tersebut sekaligus profesor di Fakultas Ilmu Atmosfer Universitas Lanzhou.Debu merupakan komponen utama aerosol atmosfer, menyumbangkan 75 persen dari muatan massa aerosol global dan 25 persen dari kedalaman optik aerosol global. Badai debu yang sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir memicu meningkatnya kekhawatiran di kalangan masyarakat dan komunitas ilmiah terkait masalah debu.Para peneliti dari tim tersebut melakukan studi tentang kasus badai debu yang terjadi pada Mei 2019, dengan menggunakan model penelitian dan prakiraan cuaca yang digabungkan dengan kimia (WRF-Chem), serta data pengindraan jauh satelit dan data observasi lapangan.Hasilnya menunjukkan bahwa umpan balik radiatif debu menghasilkan perpindahan momentum ke arah bawah dan mendinginkan bagian timur laut Mongolia dengan memengaruhi angin zonal dan adveksi suhu. Lebih lanjut, level debu yang kuat bertahan dan terus menyebabkan konsentrasi debu yang tinggi di China utara melalui angin barat.Studi tersebut mengeksplorasi bagaimana umpan balik radiatif debu di Gurun Gobi dapat mengintensifkan siklon Mongolia dan memberikan referensi ilmiah untuk studi-studi terkait, ujar Chen.Hasil studi itu telah dipublikasikan dalam jurnal npj Climate and Atmospheric Science.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Pfizer klaim kemanjuran pil lawan infeksi capai 89 persen
Indonesia
•
06 Nov 2021

Perusahaan antariksa komersial China akan luncurkan satelit yang bisa ditumpuk
Indonesia
•
23 Dec 2022

COVID-19 - Tahap dua uji vaksin Rusia selesai 3 Agustus
Indonesia
•
18 Jul 2020

Wahana pendarat AS terus hasilkan tenaga surya di Bulan
Indonesia
•
29 Feb 2024


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
