
Studi: Pasangan menikah berisiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2

Ilustrasi. (freestocks on Unsplash)
Diabetes tipe 2 berisiko lebih rendah dialami oleh pasangan yang telah menikah, meskipun mereka tidak bahagia.
Jakarta (Indonesia Window) – Pasangan menikah, apakah mereka bahagia bersama atau tidak, berisiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2, ungkap sebuah studi terbaru.Laporan – yang didasarkan pada penelitian sebelumnya yang mengonfirmasi pernikahan bahagia terkait dengan kesehatan yang lebih baik – menemukan bahwa orang lajang di atas usia 50 tahun lebih mungkin mengembangkan diabetes tipe 2.Diabetes tipe 2 adalah gangguan dalam cara tubuh mengatur dan menggunakan gula (glukosa) sebagai bahan bakar. Kondisi jangka panjang (kronis) ini menyebabkan terlalu banyak gula yang beredar di aliran darah. Akhirnya, kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada sistem peredaran darah, saraf, dan kekebalan tubuh.Para ahli dari University of Luxembourg dan University of Ottawa di Kanada memeriksa data dari English Longitudinal Study of Aging pada 3.335 orang dewasa, berusia 50 hingga 89 tahun, yang tidak menderita diabetes pada awal penelitian.“Secara keseluruhan, hasil kami menunjukkan bahwa hubungan perkawinan/kohabitasi berbanding terbalik dengan tingkat HbA1c terlepas dari dimensi dukungan atau tekanan pasangan,” kata para peneliti dalam penelitian tersebut.”“Demikian pula, hubungan ini tampaknya memiliki efek perlindungan terhadap kadar HbA1c di atas ambang batas pra-diabetes.”Data menunjukkan bahwa 76 persen orang dalam analisis yang tidak mengembangkan diabetes tipe 2 menikah atau hidup bersama.“Peningkatan dukungan untuk orang dewasa yang lebih tua yang mengalami kehilangan hubungan perkawinan/kohabitasi melalui perceraian atau kehilangan, serta pengungkapan stereotip negatif seputar hubungan romantis di kemudian hari, dapat menjadi titik awal untuk mengatasi risiko kesehatan, lebih khusus lagi penurunan glikemik, yang terkait dengan transisi perkawinan pada orang dewasa yang lebih tua,” kata The Guardian mengutip Katherine Ford, peneliti utama dalam studi tersebut.Sifat dan kualitas hubungan, bagaimanapun, tidak berpengaruh pada tingkat rata-rata glukosa darah, yang menunjukkan bahwa memiliki hubungan lebih penting daripada hubungan yang tegang.Sumber: Al Arabiya EnglishLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Studi baru temukan hubungan trauma masa kecil dengan kematian dan rawat inap COVID-19
Indonesia
•
04 Nov 2023

Laboratorium laut-dalam angin-ombak berskala besar mulai dibangun di China timur laut
Indonesia
•
11 Nov 2023

90 persen lebih air minum di stasiun luar angkasa China hasil daur ulang
Indonesia
•
24 Aug 2022


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
