Feature – Ekspedisi China ungkap fenomena bukaan es di Antarktika

Orang-orang memotret sebuah gunung es di dekat pantai Pulau Spert di Antartika pada 16 Desember 2025. (Xinhua/Yang Shu)
Polynya merupakan area perairan terbuka besar dan persisten di es laut, yang jauh lebih dari sekadar keanehan alam dan berperan sebagai mesin krusial bagi iklim Bumi dan kehidupan laut.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Di tengah es yang mengapung dan kabut di Laut Amundsen di Antarktika, para ilmuwan di atas kapal pemecah es (icebreaker) penelitian kutub China, Xuelong atau Snow Dragon, menemukan sebuah fenomena misterius, area perairan terbuka besar dan persisten di es laut yang dikenal sebagai polynya, yang jauh lebih dari sekadar keanehan alam dan berperan sebagai mesin krusial bagi iklim Bumi dan kehidupan laut.
Misi itu mencapai puncak ketegangan menjelang fajar pada 25 Januari dalam ekspedisi Antarktika ke-42 China yang sedang berlangsung.
"Dapat!" teriak seorang anggota tim saat kait jangkar yang dikerahkan oleh drone berhasil menangkap kabel sistem tambatan yang terendam di bawah laut. Para anggota tim ekspedisi di kapal bergegas ke buritan, menarik rangkaian kabel berat yang dipenuhi instrumen ke atas kapal dengan presisi dan tekad layaknya tim tarik tambang yang berpengalaman.
Sistem yang berhasil diambil kembali ini berupa rantai sensor vertikal sepanjang 2.900 meter yang ditambatkan di dasar laut, dan telah selama satu tahun merekam rahasia lautan secara diam-diam.
Berbeda dengan pelampung (buoy) permukaan yang rentan terhadap gunung es Antartika, sistem tambatan yang sepenuhnya terendam di bawah laut ini merupakan "alat kunci untuk pemantauan laut dalam secara berkelanjutan," ujar He Jianfeng, wakil kepala insinyur di Institut Penelitian Kutub China (Polar Research Institute of China). Sistem tersebut bertindak sebagai penjaga bawah laut, secara terus-menerus "mengambil denyut" laut dalam dengan merekam suhu, salinitas, arus, dan bahkan mengumpulkan partikel biologis yang tenggelam, jelas He.
Data yang diperoleh sangat berharga untuk memahami peran polynya, yang merupakan pabrik utama pembentuk air laut terdalam dan terdingin di dunia.
Pada musim dingin, ketika terpapar angin yang kencang, samudra di sini kehilangan panas dengan cepat. Air permukaan menjadi begitu dingin dan asin sehingga tenggelam dengan kuat ke dasar laut, membentuk massa padat yang disebut Air Dasar Antarktika (Antarctic Bottom Water). Proses penenggelaman ini merupakan penggerak fundamental dari sabuk konveyor samudra global, sirkulasi besar yang mendistribusikan panas dan nutrisi ke seluruh dunia serta mengatur iklim.
Saat ini, para ilmuwan China telah mengumpulkan sejumlah besar data pemantauan jangka panjang, yang digunakan untuk melacak perubahan laju pembentukan Air Dasar Antarktika, memahami proses di balik pencairan lapisan es, dan mempelajari bagaimana ekosistem kompleks di kawasan tersebut merespons pemanasan global.
Zhang Haifeng, pemimpin tim samudra ekspedisi itu, menyoroti keberhasilan utama dari pelayaran sebelumnya. Dalam ekspedisi 2025, tim mendeteksi sinyal kuat konveksi vertikal yang intens, mengamati tahap kritis dalam pembentukan Air Dasar Antarktika, katanya.
Seiring kembalinya sinar matahari musim semi, polynya yang terbuka mengalami transformasi. Lepas dari tutupan es dan diperkaya oleh nutrien dari perairan yang lebih dalam, polynya meletup dengan kehidupan melalui ledakan pertumbuhan alga mikroskopis dalam jumlah besar.
"Ledakan alga ini menjadi makanan bagi kril Antarktika, yang kemudian menarik ikan, penguin, dan paus, membentuk ekosistem unik dan kaya di Antarktika," paparnya.
Tak kalah penting, saat alga ini mati, mereka tenggelam, membawa karbon ke laut dalam, sebuah proses yang dikenal sebagai pompa karbon biologis.
Polynya memiliki kemampuan luar biasa untuk mengunci karbon, berfungsi seperti "pompa karbon samudra raksasa," tutur Zhang.
Sejak 2003, para ilmuwan China menggunakan alat khusus seperti perangkap sedimen, yang mengumpulkan partikel-partikel yang tenggelam, untuk mengukur ekspor karbon ini. Data jangka panjang mereka kini membantu mengungkap bagaimana ekosistem es ini mengatur siklus karbon global.
"Setiap data yang kami kumpulkan dan analisis menambah pengetahuan baru ke dalam arsip iklim Bumi dan membantu kami memprediksi masa depan," imbuh Zhang.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Tim ilmuwan China rekonstruksi fenologi es danau di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet
Indonesia
•
08 Dec 2022

Peneliti Australia mulai uji coba obat dari racun laba-laba untuk serangan jantung dan strok
Indonesia
•
08 Jan 2026

China ungkap cetak biru untuk pengembangan eksplorasi luar angkasa
Indonesia
•
01 May 2023

Teknologi pintar dukung perlindungan satwa liar di China
Indonesia
•
24 May 2023
Berita Terbaru

Stasiun Mohe, stasiun penerima data satelit paling utara di China
Indonesia
•
30 Jan 2026

Ilmuwan kembangkan kristal baru, capai terobosan dalam ‘output’ laser ultraviolet vakum
Indonesia
•
30 Jan 2026

Tim ilmuwan manfaatkan baterai kuantum untuk jadi pemasok daya super bagi komputer kuantum
Indonesia
•
30 Jan 2026

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026
