
Studi sebut kekeringan parah berkaitan dengan kepunahan ‘hobbit’ Indonesia

Penggalian di Liang Bua pada tahun 2007 oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (ARKENAS) Indonesia bekerja sama dengan almarhum Profesor Michael J. Morwood dan timnya dari Universitas Wollongong. (Garry K. Smith/University of Wollongong)
Fosil Homo floresiensis menunjukkan bukti kehadirannya sebelum keberadaan paling awal manusia modern di Pulau Flores, sementara Homo sapiens telah menjelajahi kepulauan Indonesia pada sekitar masa lenyapnya hobbit.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Kekeringan parah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, kemungkinan telah mendorong kepunahan Homo floresiensis, spesies purba yang dijuluki ‘hobbit’, pada 61.000 tahun yang lalu.Tim ilmuwan dari Universitas Wollongong (University of Wollongong/UOW) Australia dan Indonesia telah mengungkap bukti kuat bahwa kekeringan parah, yang disebabkan oleh perubahan iklim, memicu salah satu misteri besar dalam evolusi manusia, yakni lenyapnya "hobbit" dari Flores, urai rilis media UOW pada Selasa (9/12).Studi itu mengungkap Homo floresiensis dan salah satu mangsa utamanya, Stegodon florensis insularis, yang dulunya hidup di Pulau Flores di Indonesia Timur, meninggalkan Gua Liang Bua saat periode kekeringan berkepanjangan yang berlangsung selama ribuan tahun, urai rilis tersebut.Dengan memadukan catatan kimia yang berpresisi dari stalagmit gua dengan data isotop dari fosil gigi spesies gajah kerdil Stegodon, tim ilmuwan tersebut mengungkap adanya tren pengeringan ekstensif yang dimulai sekitar 76.000 tahun yang lalu.Tren itu memuncak pada kekeringan musim panas yang parah antara 61.000 hingga 55.000 tahun yang lalu, memicu hilangnya sumber air tawar dan pasokan makanan."Curah hujan musim panas turun hingga sekitar setengah dari level modern, dan sumber air di dasar sungai mengering secara musiman, sehingga menimbulkan tekanan ekologis bagi hobbit dan mangsanya," ujar Mike Gagan, profesor kehormatan di UOW.Fosil Homo floresiensis pertama kali ditemukan pada 2003 di Gua Liang Bua. Spesimen fosil tipe itu, yang dijuluki ‘Hobbit’ karena posturnya yang sangat kecil, secara radikal menantang teori-teori dominan tentang evolusi manusia dan penyebaran manusia di seluruh dunia, urai studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment tersebut."Persaingan untuk mendapatkan air dan makanan yang semakin menipis kemungkinan memaksa semua hobbit untuk meninggalkan Liang Bua," tutur Gert van den Berg, honorary fellow di School of Science UOW.Penelitian itu mengklarifikasi linimasa keberadaan manusia di Flores. Fosil Homo floresiensis menunjukkan bukti kehadirannya sebelum keberadaan paling awal manusia modern di pulau tersebut, sementara Homo sapiens telah menjelajahi kepulauan Indonesia pada sekitar masa lenyapnya hobbit."Mungkin saja ketika hobbit berpindah untuk mencari air dan mangsa, mereka bertemu dengan manusia modern di tempat lain di pulau tersebut," ujar Gagan. "Dalam konteks itu, perubahan iklim kemungkinan menjadi pendorong kepunahan akhir mereka."Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Lubang raksasa di Aceh Tengah kian melebar, peneliti BRIN ungkap penyebabnya
Indonesia
•
23 Feb 2026

Kemajuan China dalam bidang kedokteran luar angkasa perkuat misi eksplorasi antariksa masa depan
Indonesia
•
22 Sep 2024

Saat manusia mulai ‘jatuh hati’ pada AI, China perketat aturan bot pendamping
Indonesia
•
16 Jul 2026

Perkakas berusia 200.000 tahun dari Zaman Batu ditemukan di Qassim Arab Saudi
Indonesia
•
01 Jan 2021


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
