
Studi: Genangan air di lahan basah di lahan basah pengaruhi siklus karbon global

Kawanan domba menyantap rumput di sebuah padang rumput di wilayah Zeku, Prefektur Otonom Etnis Tibet Huangnan, Provinsi Qinghai, China barat laut, pada 30 Juli 2025. (Xinhua/Wang Yan)
Genangan air di lahan basah dapat menyimpan lebih banyak karbon organik tanah, proporsi komponen karbon yang tidak stabil juga lebih tinggi.
Lanzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Para ilmuwan China berhasil mengungkap dampak perubahan hidrologi terhadap komponen karbon tanah di padang rumput pegunungan (alpine) di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, demikian menurut Northwest Institute of Eco-Environment and Resources (NIEER) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Penelitian baru ini memberikan landasan ilmiah yang krusial untuk mengevaluasi secara akurat fungsi penyerapan karbon (carbon sink) di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet dan mengidentifikasi solusi untuk mengurangi risiko terkait, mengingat konteks perubahan iklim, kata NIEER.Dilakukan oleh para peneliti NIEER, temuan penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Catena.Mengingat latar belakang perubahan iklim global, komposisi dan stabilitas karbon organik tanah di lahan basah memiliki dampak signifikan terhadap siklus karbon global, ungkap Li Yuqiang, seorang peneliti NIEER yang memimpin studi tersebut.Menurut Li, karbon nekromassa mikrobial (microbial necromass) dan karbon organik partikulat memainkan peran kunci dalam pembentukan reservoir karbon organik tanah yang stabil dan mudah terurai.Dataran Tinggi Qinghai-Tibet merupakan reservoir substansial karbon organik. Namun demikian, dalam ekosistem pegunungan di dataran tinggi ini, di mana kondisi hidrologis sangat bervariasi, masih terdapat pemahaman yang terbatas tentang bagaimana genangan air memengaruhi komposisi dan stabilitas cadangan karbon tanah.Tim penelitian itu mendirikan 27 titik sampling di sepanjang kontinum (continuum) padang rumput dan lahan basah pegunungan di dataran tinggi tersebut.Dengan mengukur indikator seperti gula amino, para ilmuwan secara sistematis menyelidiki efek dari gradien hidrologi terhadap akumulasi karbon nekromassa mikroba dan karbon organik partikulat, serta kontribusinya terhadap karbon organik tanah. Mereka juga melacak mekanisme di lapisan tanah atas dan bawah di dataran tinggi itu.Genangan air meningkatkan kandungan karbon nekromassa mikrobial, karbon nekromassa jamur, dan karbon nekromassa bakteri di lapisan tanah atas maupun bawah di padang rumput dataran tinggi. Proporsi karbon nekromassa mikrobial dalam karbon organik tanah tetap stabil pada rata-rata 32 persen di sepanjang kontinum padang rumput-lahan basah pegunungan, ungkap penelitian itu.Penelitian baru ini mengklarifikasi pola variasi komponen cadangan karbon tanah dalam kondisi genangan air di ekosistem pegunungan di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, sebut Li."Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun genangan air di lahan basah dapat menyimpan lebih banyak karbon organik tanah, proporsi komponen karbon yang tidak stabil juga lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kita perlu mencari cara untuk mengatasi risiko kehilangan cadangan karbon tanah di daerah ini akibat pemanasan iklim dan degradasi lahan basah di masa depan," imbuh Li.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Misi Bulan Chang'e-7 China akan bawa instrumen ilmiah hasil kerja sama pengembangan internasional
Indonesia
•
25 Apr 2024

Ilmuwan ungkap mekanisme penciuman serangga untuk bantu kembangkan pestisida ramah lingkungan
Indonesia
•
17 Jun 2024

NASA dan SpaceX luncurkan misi rotasi kru baru ke ISS
Indonesia
•
03 Aug 2025

China akan tingkatkan jaringan 5G menjadi 5G-A
Indonesia
•
25 Nov 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
