
Kertas berlapis minyak nabati, solusi ramah lingkungan untuk kemasan makanan

Ilustrasi kemasan makanan. (Anna Hill on Unsplash)
Kertas berbasis lemak nabati dapat dibuat dengan menggunakan minyak walnut, kemiri, kedelai, dan linseed (biji kecil dari tanaman rami) karena memiliki karakteristik yang memungkinkan terbentuknya lapisan pelindung di permukaan kertas.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Kemasan makanan berbahan kertas kini semakin akrab dengan kehidupan sehari-hari, terutama untuk makanan dan minuman siap saji yang dibawa pulang. Selain praktis dan ringan, kemasan kertas juga relatif terjangkau. Namun, di balik kelebihannya, masih ada persoalan besar yang perlu dijawab: lapisan anti bocor yang digunakan pada kemasan kertas umumnya masih berbahan plastik.
Lapisan plastik, seperti polyethylene, memang efektif mencegah kertas bocor saat bersentuhan dengan air atau minyak. Sayangnya, bahan ini membuat kemasan sulit didaur ulang atau dikomposkan secara sempurna. Tak hanya itu, komponen plastik juga berpotensi bermigrasi ke dalam makanan atau minuman, yang dapat berdampak negatif bagi kesehatan.
Melihat persoalan tersebut, peneliti di Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Zatil Afrah Athaillah, menghadirkan pendekatan baru yang lebih ramah lingkungan. Dia mengembangkan metode pelapisan kertas kemasan menggunakan minyak nabati sebagai alternatif pengganti plastik.
“Lapisan ini dibutuhkan agar kertas tidak bocor. Tapi kalau bahannya plastik, ada masalah keberlanjutan lingkungan dan juga keamanan pangan,” ujar Zatil saat diwawancarai Humas BRIN, Senin (19/1), dikutip dari situs jejaring BRIN, Rabu.
Berangkat dari tiga pertimbangan utama, yakni kepraktisan, keberlanjutan, dan keamanan pangan, Zatil mulai mengembangkan riset pelapisan kertas berbasis lemak nabati sejak awal 2025. Dalam penelitiannya, dia menguji beberapa jenis minyak nabati, seperti minyak walnut, kemiri, kedelai, dan linseed (biji kecil dari tanaman rami). Minyak-minyak ini dipilih karena memiliki karakteristik yang memungkinkan terbentuknya lapisan pelindung di permukaan kertas.
Sementara itu, minyak lain seperti minyak sawit dan zaitun juga sempat diuji. Namun, hasilnya belum optimal karena masih memungkinkan air dan minyak merembes menembus kertas.
Keberhasilan pelapisan diuji dengan cara yang sederhana namun teliti. Air dan minyak diteteskan ke permukaan kertas, lalu diamati apakah cairan tersebut merembes ke bagian bawah. Pengamatan dilakukan hingga 60 menit. Jika kertas tetap kering dan tidak mengalami perubahan tampilan, pelapisan dinilai berhasil.
“Batas 60 menit ini dipilih untuk kepentingan pengujian. Bukan berarti setelah itu kertas pasti bocor,” jelas Zatil.
Selain uji tetes, pengamatan juga dilakukan menggunakan mikroskop 3D untuk melihat bentuk tetesan air dari sisi samping kertas. Hasilnya cukup menarik. Pada kertas tanpa pelapis, tetesan air cenderung melebar. Sebaliknya, pada kertas yang dilapisi minyak nabati, tetesan air tampak lebih membulat dengan sudut kontak mendekati 90 derajat. Ini menandakan permukaan kertas menjadi lebih tahan air atau bersifat hidrofobik.
Rangkaian pengujian lainnya juga dilakukan, mulai dari uji kekuatan dan kelenturan kertas, analisis gugus fungsi dengan FTIR, uji kristalinitas menggunakan XRD, hingga pengamatan morfologi kertas dengan scanning electron microscopy (SEM).
“Secara mekanik, kertas berlapis minyak nabati memiliki kekuatan dan kelenturan yang setara, bahkan dalam beberapa kasus lebih baik, dibandingkan kertas tanpa pelapis,” tambahnya.
Saat ini, hasil riset masih berupa lembaran kertas berlapis, belum dibentuk menjadi produk kemasan seperti gelas atau wadah makanan. Meski begitu, metode ini telah didaftarkan dan memperoleh paten pada 2025 melalui pendanaan Rumah Program Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) BRIN.
Ke depan, Zatil berencana melanjutkan penelitian dengan uji sensori untuk memastikan lapisan minyak nabati tidak memengaruhi rasa maupun aroma minuman, seperti kopi dan teh. Dia juga tertarik mengeksplorasi lipid alami dari lapisan luar daun atau kulit buah yang selama ini dianggap limbah.
“Daun dan kulit buah sebenarnya punya lipid alami. Kalau bisa dimanfaatkan sebagai bahan pelapis, itu akan sangat menarik karena berbasis limbah,” ujarnya.
Lipid adalah kelompok senyawa organik (seperti lemak, minyak, lilin, dan steroid) yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut nonpolar, berfungsi vital insulator panas.
Inovasi ini diharapkan menjadi langkah awal menuju kemasan makanan berbahan kertas yang lebih aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan—tanpa bergantung pada plastik berbasis minyak bumi.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim peneliti China temukan spesies kodok baru
Indonesia
•
02 Dec 2022

Batas aman Bumi terancam jebol, suhu global diprediksi tembus 1,5°C
Indonesia
•
03 Sep 2026

Pesawat latih AG100 buatan China mulai beroperasi komersial
Indonesia
•
09 Dec 2024

Penelitian ungkap sampel Bulan Chang'e-6 punya ‘karakteristik unik’
Indonesia
•
20 Sep 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
