
Laporan Keamanan Munich peringatkan kehancuran tatanan internasional di tengah perubahan kebijakan AS

Panitia penyelenggara Konferensi Keamanan Munich (Munich Security Conference) menampilkan Laporan Keamanan Munich (Munich Security Report) 2026 di Berlin, Jerman, pada 9 Februari 2026. (Xinhua/Li Chao)
Laporan Keamanan Munich (Munich Security Report) terbaru memperingatkan mengenai kerusakan tatanan internasional secara sistematis dan kebangkitan apa yang disebut sebagai "politik bola penghancur" (wrecking-ball politics).
Berlin, Jerman (Xinhua/Indonesia Window) – Laporan Keamanan Munich (Munich Security Report) terbaru memperingatkan mengenai kerusakan tatanan internasional secara sistematis dan kebangkitan apa yang disebut sebagai "politik bola penghancur" (wrecking-ball politics).
Laporan tahunan tersebut diterbitkan pada Senin (9/2), menjelang Konferensi Keamanan Munich (Munich Security Conference/MSC) ke-62, yang dijadwalkan berlangsung dari Jumat (13/2) hingga Ahad (15/2) di Munich, Jerman selatan.
Dalam kata pengantar laporan tersebut, Ketua MSC Wolfgang Ischinger menyatakan bahwa, dalam sejarah konferensi tersebut belakangan ini, jarang ada begitu banyak pertanyaan mendasar dibahas secara bersamaan tentang keamanan Eropa, ketahanan kemitraan transatlantik, dan kemampuan masyarakat internasional untuk mengelola dunia yang semakin penuh persaingan.
Laporan tersebut menekankan bahwa "penyesuaian ulang" kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) telah memicu dinamika yang konsekuensi penuhnya baru mulai terlihat. Laporan mengatakan implikasi dari perubahan ini "tidak dilebih-lebihkan."
Laporan berjudul ‘Under Destruction’ tersebut, mencerminkan kekhawatiran penyelenggara terhadap sistem internasional saat ini. Laporan tersebut mencatat bahwa lebih dari 80 tahun setelah pembangunannya dimulai, tatanan internasional pascaperang kini sedang "dalam kehancuran."
Menurut laporan tersebut, pemerintahan AS saat ini telah meninggalkan elemen-elemen inti dari tatanan internasional yang ada, sebuah sikap yang diwujudkan dengan penarikan diri dari kerangka kerja utama, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim.
Dalam bidang ekonomi, laporan tersebut menyebutkan bahwa Washington "secara terbuka mengabaikan aturan perdagangan global yang dulu pernah mereka bantu ciptakan."
Menyusul deklarasi "Hari Pembebasan" (Liberation Day) oleh Presiden AS Donald Trump pada 2 April 2025, Washington memberlakukan "tarif luas yang tidak sesuai dengan aturan WTO terhadap hampir setiap negara," kata laporan itu. Tingkat rata-rata telah meningkat menjadi 15 persen – tingkat yang terakhir kali terlihat pada 1930-an dan hampir delapan kali lebih tinggi daripada tahun sebelumnya, imbuh laporan.
Laporan tersebut juga merinci pergeseran ke arah "politik bola penghancur" (wrecking-ball politics), di mana beberapa pemimpin lebih memilih "pemusnahan daripada reformasi" dan "penghancuran simbolis daripada proses adaptasi kelembagaan yang lambat."
Laporan tersebut memperingatkan bahwa pendekatan ini dapat menghasilkan dunia yang dibentuk oleh "kesepakatan transaksional, alih-alih kerja sama berprinsip." Laporan juga menambahkan bahwa keretakan transatlantik yang dihasilkan telah membuat AS "tidak dapat dikenali" oleh sebagian besar warga Eropa.
Menurut Ischinger, lebih dari 50 anggota Kongres AS diperkirakan akan menghadiri konferensi tiga hari yang akan digelar di Munich itu.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Layar interaktif disediakan di Masjidil Haram untuk pandu jamaah
Indonesia
•
22 May 2021

NATO desak Rusia hormati perjanjian nuklir dengan AS
Indonesia
•
04 Feb 2023

Feature – Titik balik Terusan Panama, kisah perjuangan Panama meraih kedaulatan
Indonesia
•
26 Dec 2024

Stoltenberg sebut Ukraina kuras persediaan amunisi NATO
Indonesia
•
14 Feb 2023


Berita Terbaru

Badan Maritim PBB hentikan evakuasi setelah serangan di Teluk Oman, 11.000 pelaut terjebak di Selat Hormuz
Indonesia
•
26 Jun 2026

Iran desak AS hentikan interpretasi yang bertentangan dengan MoU perdamaian
Indonesia
•
26 Jun 2026

Arab Saudi tangguhkan perjalanan ke tiga negara Afrika, cegah penyebaran Ebola
Indonesia
•
26 Jun 2026

Oman tegaskan Selat Hormuz tak akan kenakan biaya transit, jamin navigasi tetap aman
Indonesia
•
26 Jun 2026
