
Metode genetik baru permudah pembedaan jenis kelamin nyamuk, tingkatkan pengendalian penyakit

Ilustrasi. (National Institute of Allergy and Infectious Diseases on Unsplash)
Metode genetik baru mempermudah pembedaan nyamuk jantan dan betina, sebuah langkah penting dalam program pengendalian nyamuk skala besar.
Yerusalem, Wilayah Palestin yang diduduki (Xinhua/Indonesia Window) – Para peneliti Israel, Jerman, dan Prancis berhasil mengembangkan metode genetik baru yang mempermudah pembedaan nyamuk jantan dan betina, sebuah langkah penting dalam program pengendalian nyamuk skala besar, demikian diungkapkan Hebrew University of Jerusalem dalam sebuah pernyataan pada Rabu (17/12).Program ini hanya melepaskan nyamuk jantan yang steril ke alam liar untuk membendung penyebaran penyakit berbahaya, seperti demam berdarah dengue, zika, dan cikungunya, sehingga pemisahan nyamuk betina menjadi langkah yang esensial karena hanya nyamuk betina yang akan menggigit manusia dan menyebarkan penyakit.Metode baru tersebut, yang telah dipublikasikan di dalam jurnal Nature Communications, menggunakan penyuntingan gen untuk membuat nyamuk jantan berwarna gelap dan nyamuk betina berwarna pucat, menciptakan perbedaan visual yang jelas dan memungkinkan pemilahan secara lebih cepat dan akurat. Dengan demikian akan membantu mengatasi kendala besar dalam program pengendalian nyamuk.Metode pembedaan jenis kelamin yang ada saat ini bergantung pada perbedaan ukuran nyamuk muda. Metode ini lambat, sarat kerja, dan terkadang memungkinkan nyamuk betina yang menggigit manusia lolos.Dalam studi baru kali ini, para peneliti menggunakan teknologi penyuntingan gen CRISPR untuk mengganggu gen yang bertanggung jawab atas pigmentasi kuning. Mereka mengembalikan warna gelap normal hanya pada nyamuk jantan dengan cara menggabungkan gen kuning tersebut dengan "sakelar utama", yang disebut nix, yang dapat mengubah nyamuk betina menjadi nyamuk jantan yang subur.Metode ini menghasilkan galur (strain) yang stabil di mana semua nyamuk jantan berwarna gelap, dan semua nyamuk betina tetap berwarna kuning.Studi ini juga menemukan bahwa telur yang dihasilkan oleh nyamuk betina kuning mengering dengan cepat, yang bertindak sebagai mekanisme pengaman alami. Jadi, meskipun ada beberapa nyamuk betina yang lolos, telur mereka tidak akan bertahan di alam liar.Para peneliti mengatakan bahwa pendekatan yang aman dan terukur ini dapat mengatasi salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian nyamuk dan membantu mengembangkan alat generasi berikutnya untuk memerangi penyakit yang ditularkan nyamuk.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim peneliti ungkap pola perlambatan rotasi Bumi selama jutaan tahun
Indonesia
•
15 Aug 2024

Ilmuwan berhasil pulihkan satelit Shijian-19, satelit ‘reusable’ dan ‘returnable’ pertama China
Indonesia
•
13 Oct 2024

OpenAI rilis GPT-5.4 dengan peningkatan kemampuan penalaran, pengodean, dan agen AI
Indonesia
•
06 Mar 2026

China akan luncurkan wahana penjelajah Bulan berikutnya sekitar 2024
Indonesia
•
01 Oct 2023


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
