
Studi: Kematian akibat suhu panas di Eropa naik di tengah rekor musim panas terpanas

Sebuah layar menunjukkan suhu udara mencapai 43 derajat Celsius di sebuah taman di Bucharest, Rumania, pada 13 Juli 2024. (Xinhua/Cristian Cristel)
Perubahan iklim mendorong peningkatan tajam suhu panas yang mematikan di seluruh Eropa, dengan 181.000 kematian terkait suhu panas tercatat dalam tiga musim panas terakhir.
Barcelona, Spanyol (Xinhua/Indonesia Window) – Eropa mencatat 181.000 kematian terkait suhu panas dalam tiga musim panas terakhir, menurut sebuah studi baru yang dilakukan oleh Barcelona Institute for Global Health (ISGlobal) yang diterbitkan pada Senin (22/9) di Nature Medicine.Laporan tersebut memperingatkan bahwa perubahan iklim mendorong peningkatan tajam suhu panas yang mematikan di seluruh benua itu. Pada musim panas 2024 saja, yang menjadi musim panas dengan suhu tertinggi sepanjang sejarah pencatatan, terdapat 62.775 kematian terkait suhu panas antara Juni dan September. Italia menjadi negara yang paling terdampak dengan 19.038 kematian, disusul oleh Spanyol dengan 6.743 kematian, dan Jerman dengan 6.282 kematian.Menganalisis data dari 654 kawasan di 32 negara Eropa, para peneliti menemukan bahwa Yunani memiliki tingkat kematian terkait suhu panas tertinggi pada 2024, dengan 574 kematian per satu juta orang, diikuti oleh Bulgaria dengan 530 kematian, dan Serbia dengan 379 kematian. Secara keseluruhan, 15 negara mengalami tingkat kematian tertinggi akibat gelombang panas sepanjang sejarah pencatatan."Eropa memanas lebih cepat dibandingkan benua lainnya akibat perubahan iklim, dua kali lipat dari rata-rata global. Wilayah Mediterania dan Tenggara merupakan wilayah yang paling terimbas, dengan dampak kesehatan yang signifikan dan meningkatnya angka kematian akibat suhu panas," ujar peneliti ISGlobal, Natalia Shartova.Studi itu mengidentifikasi perempuan dan lansia sebagai kelompok yang paling rentan. Jumlah kematian pada perempuan tercatat 46,7 persen lebih tinggi dibandingkan laki-laki, sementara orang berusia di atas 75 tahun menghadapi tingkat kematian 323 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Mikroba usus diduga bantu bentuk otak manusia
Indonesia
•
07 Jan 2026

Feature – Xiaoyi, kota kaya batu bara di China yang bertransformasi jadi pionir pengembangan hidrogen
Indonesia
•
04 Jun 2024

Tes darah untuk Alzheimer dengan analisis protein 90 persen akurat
Indonesia
•
20 Apr 2025

Ilmuwan China temukan gen baru di balik penyakit darah langka
Indonesia
•
31 Aug 2022


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
