
Ilmuwan China ungkap mekanisme pengatur keanekaragaman tumbuhan di kepulauan tropis

Foto dari udara yang diabadikan pada 4 Agustus 2018 ini menunjukkan pemandangan Pulau Wuzhizhou di Sanya, Provinsi Hainan, China selatan. (Xinhua/Guo Cheng)
Pola sebaran keanekaragaman tumbuhan di kepulauan tropis sesuai dengan teori biogeografi klasik hubungan spesies-area, yang menyatakan bahwa makin luas wilayah pulau, makin tinggi keanekaragaman spesies tumbuhannya.
Beijing, China (Xinhua) – Tim peneliti China baru-baru ini mengungkap mekanisme-mekanisme yang mengatur keanekaragaman tumbuhan di kepulauan tropis, ungkap Kebun Botani China Selatan yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China.Meski terdapat penelitian yang signifikan di bidang biogeografi pulau, pemahaman kita tentang keanekaragaman hayati dan sumber daya hayati di sebagian besar kepulauan maritim China masih terbatas karena tingginya biaya dan kesulitan yang berkaitan dengan studi kepulauan.Para peneliti di kebun botani tersebut memilih dua kepulauan, yang mencakup 16 pulau karang tropis dan 21 pulau kontinental tropis. Mereka menganalisis data keanekaragaman spesies tumbuhan dan unsur tanah dari 589 kuadrat (589 quadrats).Mereka menemukan bahwa pola sebaran keanekaragaman spesies tumbuhan di kedua kepulauan tersebut sesuai dengan teori biogeografi klasik hubungan spesies-area, yang menyatakan bahwa makin luas wilayah pulau, makin tinggi keanekaragaman spesies tumbuhannya. Namun, mereka juga menemukan bahwa terdapat mekanisme berbeda yang menjaga keanekaragaman tumbuhan di kedua kepulauan tersebut.Untuk kepulauan karang, mereka menemukan bahwa nutrien tanah dan jarak spasial antarkomunitas memainkan peran besar dalam membentuk struktur komunitas tumbuhan dan keanekaragaman spesies. Sebaliknya, mereka menemukan bahwa pengaruh langsung dari luas pulau menentukan kekayaan ragam spesies tumbuhan di kepulauan kontinental, yang diikuti oleh pengaruh nutrien tanah.Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Plant Diversity.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China identifikasi evolusi virus flu burung H5N1
Indonesia
•
11 Jul 2022

‘Drone’ bantu proses konstruksi proyek PV di China barat daya
Indonesia
•
19 Apr 2023

"Sandy cay" tropis secara akurat rekam topan purba
Indonesia
•
15 Sep 2019

Teknologi baru bantu konservasi margasatwa di ‘atap dunia’
Indonesia
•
04 Mar 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
