Peneliti kembangkan ‘kembaran digital’ AI pasien untuk prediksi kesehatan mereka di masa mendatang

Replika virtual pasien

Ilustrasi. (Steve Johnson on Unsplash)

Replika virtual pasien dengan teknologi AI, DT-GPT, mampu memprediksi kondisi kesehatan individu, sehingga memungkinkan dokter melakukan antisipasi jika kesehatan pasien mereka akan memburuk.

Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Universitas Melbourne Australia mengembangkan perangkat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mampu menciptakan ‘kembaran digital’, atau replika virtual pasien, untuk memprediksi kondisi kesehatan individu.

Tim peneliti menggunakan tiga kumpulan data yang berisi ribuan riwayat kesehatan elektronik pasien untuk melatih model bahasa besar yang ada saat ini, menurut pernyataan universitas yang dirilis pada Senin (17/11).

Model AI yang dinamai DT-GPT itu, yang dipuji sebagai "pengubah permainan (gamechanger) potensial bagi sektor uji klinis," menganalisis data medis pasien penderita penyakit Alzheimer atau kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (non-small cell lung cancer), serta pasien yang dirawat di unit perawatan intensif (ICU), tutur pernyataan tersebut.

Model itu menciptakan kembaran digital pasien dan secara akurat memprediksi perubahan kondisi kesehatan mereka dari waktu ke waktu dengan memanfaatkan pengetahuan medis yang ada serta menganalisis riwayat pasien, termasuk hasil laboratorium, diagnosis, dan pengobatan, tambah pernyataan itu.

Model itu tidak diberikan informasi perihal hasil kesehatan pasien, sehingga memungkinkan tim peneliti memvalidasi prediksinya, kata pernyataan tersebut, sembari menambahkan model DT-GPT mengungguli 14 model pembelajaran mesin mutakhir lainnya dalam akurasi prediksi.

"Teknologi ini membuka jalan bagi pergeseran dari pengobatan reaktif menjadi prediktif dan personal," ujar Lektor Kepala Universitas Melbourne Michael Menden, selaku peneliti utama dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal NPJ Digital Medicine tersebut.

"Model tersebut memungkinkan dokter melakukan antisipasi jika kesehatan pasien mereka akan memburuk sehingga mereka dapat melakukan intervensi lebih awal," tutur Menden, sembari menambahkan model tersebut juga dapat memprediksi efek samping obat, membantu dokter menyesuaikan pengobatan sesuai profil unik setiap pasien, dan meningkatkan hasil kesehatan.

Model itu secara cepat menafsirkan data yang kompleks dan memiliki antarmuka mirip chatbot bagi para pengguna untuk mengeksplorasi prediksinya, imbuh Menden, seraya menambahkan DT-GPT menggunakan AI generatif untuk menciptakan "prediksi zero-shot," yang berarti model itu dapat membuat perkiraan berdasarkan data mengenai nilai laboratorium meski tanpa pelatihan sebelumnya.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait