Peneliti Jerman-China kembangkan tikus robotik dengan peningkatan fleksibilitas dan kelincahan

Gambar berikut menunjukkan robot tikus NeRmo yang dilaporkan dalam sebuah makalah yang dipublikasikan di jurnal Science Robotics. (Xinhua/Bing Zhenshan)
Robot robotika berjuluk NeRmo yang terinspirasi dari tikus dengan tendon nilon buatan, memiliki bobot 225 gram dan 13 derajat kebebasan, memungkinkan berbagai gerakan fleksibel, termasuk memutar pinggul dan bahu, menekuk lutut dan siku, melakukan fleksi tulang belakang lateral dan sagital, memutar dan memiringkan kepala secara horizontal, serta menekuk ekor ke samping.
Guangzhou, China (Xinhua) – Sebuah tim peneliti internasional dari Jerman dan China berhasil mengembangkan robot robotika dengan tulang belakang fleksibel yang mampu melakukan fleksi lateral, yang menunjukkan kelincahan lebih tinggi dibandingkan robot berkaki empat lainnya yang sudah ada.Studi tentang robot sepanjang 40 sentimeter berjuluk NeRmo ini, yang meniru morfologi dan sistem tendon tikus sungguhan, dipublikasikan pada Kamis (7/12) dalam jurnal Science Robotics.Para peneliti dari Universitas Teknik Munich dan Universitas Sun Yat-sen merancang robot neurorobotik ini, yang terinspirasi dari tikus dengan tendon nilon buatan, yang mendukung gerakan seperti tulang belakang yang fleksibel dan luwes.Mereka membangun struktur bagian depan yang kaku yang memuat elektronik NeRmo, dan tulang belakang vertebrata di bagian belakang dilengkapi dengan empat sendi lumbal dan lateral. Tendon buatan pada sendi lutut dan siku memungkinkan robot bergerak lebih seperti tikus dan berputar dengan cepat, menurut studi itu.Robot berbobot 225 gram ini memiliki 13 derajat kebebasan, memungkinkan berbagai gerakan fleksibel, termasuk memutar pinggul dan bahu, menekuk lutut dan siku, melakukan fleksi tulang belakang lateral dan sagital, memutar dan memiringkan kepala secara horizontal, serta menekuk ekor ke samping.Desain ini secara signifikan meningkatkan kemampuan meliuk robot. Dalam misi navigasi labirin, waktu yang diperlukan untuk keluar dari labirin berkurang lebih dari 30 persen dibandingkan saat pengontrol tulang belakang dinonaktifkan."Tulang belakang yang fleksibel meningkatkan kinerja gerak hewan berkaki empat dalam stabilitas statis, kecepatan berjalan, dan perilaku berputar. Penelitian kami dapat memajukan pemahaman keterampilan gerak hewan berkaki empat berbasis tulang belakang dan menyoroti konsep desain yang menjanjikan untuk mengembangkan robot berkaki lebih gesit," ujar Bing Zhenshan, penulis koresponden penelitian tersebut.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Platform T-makers jembatani Selat Taiwan dengan inovasi dan peluang bisnis
Indonesia
•
18 Jun 2024

Menilik jamur raksasa liar yang ditemukan di Yunnan, China
Indonesia
•
20 Jul 2024

Malaysia mulai terapkan teknologi robot kurangi tenaga kerja asing
Indonesia
•
27 Jun 2020

Peneliti ungkap bagaimana debu global kendalikan siklus karbon dan perubahan iklim
Indonesia
•
16 Nov 2025
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
