
Ilmuwan China kembangkan terobosan teknologi ‘tato es’ untuk organisme hidup

Foto yang diabadikan pada 27 Desember 2024 ini memperlihatkan pemandangan di dekat Stasiun Qinling milik China di Antarktika. (Xinhua/Huang Taoming)
Teknologi pengukiran es untuk menciptakan pola berskala nano secara presisi pada organisme hidup menunjukkan presisi yang sangat tinggi dan biokompatibilitas yang sangat baik, membuka peluang baru bagi pengembangan perangkat nano dan robot mikro medis.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti China berhasil memanfaatkan teknologi pengukiran es untuk menciptakan pola berskala nano secara presisi pada organisme hidup, menurut Universitas Westlake di Provinsi Zhejiang, China timur.‘Tato’ mikroskopis ini menunjukkan presisi yang sangat tinggi dan biokompatibilitas yang sangat baik, membuka peluang baru bagi pengembangan perangkat nano dan robot mikro medis. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Nano Letters."Pendekatan inovatif ini menggantikan bahan fotoresis konvensional dengan es," ungkap Yang Zhirong, penulis utama penelitian tersebut. "Sinar elektron mengukir pola secara langsung pada lapisan es, menghindari kontaminasi dari penghilangan resistansi dan memungkinkan penerapan biologis." Es yang digunakan dapat berupa air beku atau senyawa organik beku.Para peneliti memilih tardigrada, makhluk kecil berukuran kurang dari 1 milimeter yang dikenal sebagai ‘beruang air’ (water bear), karena daya tahannya yang ekstrem. Organisme ini mampu bertahan hidup dalam kondisi ekstrem, termasuk suhu ekstrem, dehidrasi, radiasi, dan lingkungan beracun.Dalam sebuah eksperimen, para peneliti terlebih dahulu menempatkan tardigrada ke dalam kondisi kriptobiotik, yaitu kondisi di mana metabolisme mereka hampir berhenti. Setelah itu, mereka kemudian melapisi tardigrada dengan lapisan es organik berskala nano khusus. Setelah terpapar sinar elektron, es tersebut membentuk pola padat yang stabil pada tubuh tardigrada dalam suhu ruangan.Uji lanjutan menunjukkan ‘tato’ tersebut tetap utuh bahkan ketika diregangkan, direndam dalam pelarut, atau dikeringkan."Terobosan ini dapat mendorong kemajuan sensor mikroba, perangkat yang terinspirasi dari alam dan robot mikro hidup," ujar Yang. "Di masa depan, kami dapat menerapkan teknologi pengukiran es pada bakteri dan virus, menggabungkan sistem hidup dan mekanis guna meningkatkan kinerja."Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

2025 diperkirakan akan jadi salah satu dari tiga tahun terpanas sepanjang sejarah
Indonesia
•
08 Nov 2025

Batu giok naga terbesar dari peradaban Hongshan ditemukan di China utara
Indonesia
•
23 Sep 2024

Stasiun luar angkasa China diharapkan hasilkan berbagai penemuan ilmiah
Indonesia
•
22 Aug 2023

Desa berusia lebih dari 3.000 tahun ditemukan di China utara
Indonesia
•
05 Jun 2023


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
