
Tim ilmuwan China rekonstruksi fenologi es danau di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet

Foto yang diabadikan pada 5 November 2022 ini menunjukkan Lahan Basah Lhalu di Lhasa, Daerah Otonom Tibet, China barat daya. (Xinhua/Zhou Dixiao)
Fenologi es danau pada 132 danau di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet dari 1978 hingga 2016 telah direkonstruksi guna memantau kualitas air dan biota air di danau-danau itu, serta dapat digunakan untuk berbagai aplikasi yang berkaitan dengan perubahan iklim, limnologi, hidrologi, dan ekologi perairan.
Beijing, China (Xinhua) – Tim ilmuwan China berhasil merekonstruksi kumpulan data (dataset) lengkap dari fenologi es danau pada 132 danau di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet dari 1978 hingga 2016, demikian menurut Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Dataset tersebut baru-baru ini dipresentasikan dalam platform berbagi data milik Pusat Data Dataran Tinggi Tibet (Tibetan Plateau Data Center/TPDC) Nasional China.Fenologi es danau merupakan indikator tampak yang mencerminkan perubahan termodinamika danau sebagai respons terhadap pemanasan global. Karena keterbatasan observasi konvensional di darat, fenologi es danau di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet jarang diobservasi dan dicatat.Tim ilmuwan ini berhasil mengintegrasikan teknik penginderaan jauh dan pemodelan numerik guna mengembangkan rangkaian waktu yang lengkap, konsisten, dan berkelanjutan dari pengaruh iklim atau lingkungan sekitar es dari masa ke masa, yang direkonstruksi untuk 132 danau di dataran tinggi tersebut.Berdasarkan dataset tersebut, tim ilmuwan China menemukan bahwa selama hampir 40 tahun, danau-danau di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet dicirikan dengan waktu pembekuan air danau yang tertunda, waktu pencairan es yang lebih awal, dan durasi danau tertutup es yang lebih pendek.Menurut Zhang Bing, seorang peneliti dari Institut Penelitian Informasi Kedirgantaraan yang berada di bawah naungan CAS, dataset tersebut menyediakan data penting untuk memantau kualitas air dan biota air di danau-danau itu. Dataset ini juga dapat digunakan untuk berbagai aplikasi yang berkaitan dengan perubahan iklim, limnologi, hidrologi, dan ekologi perairan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Varian Omicron sebabkan infeksi pernapasan parah pada anak-anak
Indonesia
•
19 Mar 2022

China izinkan spektrum 6GHz untuk sistem 5G dan 6G
Indonesia
•
29 Jun 2023

Situs peninggalan tepi danau Zaman Neolitikum teridentifikasi di Dataran Tinggi Qinghai-Xizang
Indonesia
•
24 Jan 2025

Tim ilmuwan Rusia kembangkan sistem nanopartikel yang memungkinkan pengobatan melanoma secara oral
Indonesia
•
28 Nov 2025


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
