
Ilmuwan China ungkap cetak biru kompleks dari korteks otak manusia

Seorang peneliti menyampaikan materi pelajaran kepada mahasiswa program sarjana di sebuah laboratorium di Universitas Tianjin di Tianjin, China utara, pada 15 November 2024. (Xinhua/Li Ran)
Gen memengaruhi pembentukan jaringan saraf yang kompleks melalui aturan-aturan yang disederhanakan, yang mengindikasikan bahwa pengorganisasian otak mengikuti aturan tak kasatmata yang dibentuk oleh faktor-faktor genetik.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Para peneliti dari Institut Automasi (Institute of Automation) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) berhasil mengungkap hubungan intrinsik antara struktur topologi dari koneksi korteks otak manusia dan karakteristik genetik, menurut sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Neuroscience.Fan Lingzhong, seorang peneliti di institut tersebut, menjelaskan bahwa jaringan saraf beroperasi saat manusia berpikir, belajar, atau memahami dunia, dengan triliunan koneksi yang memungkinkan transfer informasi secara cepat.Penelitian ini membahas pertanyaan mendasar mengenai bagaimana koneksi yang rumit ini terbentuk, dan mengapa bagian-bagian otak yang berbeda menunjukkan distribusi yang teratur di seluruh korteks."Otak mulai mengikuti 'cetak biru' genetik selama perkembangan embrio," kata Fan.Para peneliti mengajukan sebuah hipotesis, yaitu bahwa pengodean (encoding) genetik dan konektivitas kortikal tidak berhubungan secara langsung karena perbedaan numerik yang sangat besar antara gen dan koneksi saraf. Alih-alih demikian, gen kemungkinan memandu pengorganisasian spasial dari jalur serat materi putih melalui prinsip pengorganisasian yang efisien, membentuk pola-pola spesifik yang tertanam di korteks, kata Li Deying, penulis utama makalah sekaligus mahasiswa doktoral di institut tersebut.Dengan menganalisis kumpulan data yang komprehensif, tim tersebut mengidentifikasi tiga sumbu topologi dominan yang mengatur konektivitas otak, yakni dorsal-ventral, anterior-posterior, dan medial-lateral.Sumbu-sumbu ini tidak hanya mencerminkan pola-pola koneksi kortikal, tetapi juga sangat selaras dengan gradien morfogenetik embrionik dan gradien genetik selama proses perkembangan, kata Li.Fan menekankan bahwa temuan utama studi ini adalah definisi dari "topologi konektivitas global" di seluruh otak, yang menunjukkan kesesuaian signifikan dengan ekspresi gen.Temuan ini menunjukkan bahwa gen memengaruhi pembentukan jaringan saraf yang kompleks melalui aturan-aturan yang disederhanakan, yang mengindikasikan bahwa pengorganisasian otak mengikuti aturan tak kasatmata yang dibentuk oleh faktor-faktor genetik.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti temukan deformasi lidah es Antarktika yang dipicu tsunami vulkanik Tonga
Indonesia
•
28 Mar 2023

Ilmuwan kembangkan model AI baru untuk prakiraan cuaca
Indonesia
•
11 Dec 2023

Madu kaya antioksidan, baik untuk pencernaan, jantung dan kecantikan
Indonesia
•
18 Mar 2022

Teleskop surya milik China mulai uji coba pengamatan
Indonesia
•
18 Jul 2023


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
