Studi baru ungkap hubungan antara penggunaan lahan dan komunitas tanah

Para pekerja membentangkan lembaran kain yang terbuat dari batok kelapa di sebuah lereng di lokasi restorasi tambang yang terbengkalai di Desa Duoma, yang terletak di Dazhasi, wilayah Ruoergai, Provinsi Sichuan, China barat daya, pada 23 Agustus 2023. (Xinhua/Wang Yiji
Penggunaan lahan dan hubungannya dengan komunitas tanah itu merupakan tantangan besar bagi keanekaragaman hayati karena tanah menyimpan banyak parasit eukariotik uniseluler organisme metazoa, terutama apicomplexa.
Beijing, China (Xinhua) – Tim peneliti China telah mendapatkan dasar untuk mengungkap hubungan antara penggunaan lahan dan komunitas tanah di daerah subtropis dan beriklim sedang di seluruh China, menurut Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Tim peneliti dari Institut Lingkungan Perkotaan CAS melakukan survei keanekaragaman hayati tersebut. Studi mereka meningkatkan pemahaman tentang karakteristik utama dan interaksi dalam komunitas tanah serta respons mereka terhadap aktivitas manusia, khususnya pertanian dan urbanisasi, ungkap CAS.Hubungan dari penggunaan lahan itu merupakan tantangan besar bagi keanekaragaman hayati karena tanah menyimpan banyak parasit eukariotik uniseluler organisme metazoa, terutama apicomplexa. Namun, penyebaran apicomplexa, asosiasinya dengan inang, dan dampak penggunaan lahan yang didominasi oleh manusia masih jarang diteliti.Tim peneliti tersebut menyelidiki biogeografi dan hubungan antara apicomplexa dan metazoa tanah di tiga jenis ekosistem yang didominasi manusia, seperti lahan pertanian, daerah permukiman, dan taman, serta ekosistem hutan yang lebih alami di daerah beriklim subtropis, beriklim hangat, dan beriklim sedang di China.Studi mereka menunjukkan bahwa penurunan kekayaan takson inang merupakan faktor penting tetapi bukan satu-satunya penyebab berkurangnya kekayaan takson parasit dalam sistem tanah. Kekayaan apicomplexa sebagian besar terpisah dari kekayaan metazoa di ekosistem yang didominasi manusia.Studi itu telah dipublikasikan di jurnal Global Ecology and Biogeography.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Ericsson "optimistis" tentang masa depan telekomunikasi di China
Indonesia
•
01 Mar 2024

Apa itu sistem pertahanan rudal Patriot?
Indonesia
•
22 Dec 2022

Arkeolog temukan 570 makam kuno di China tengah
Indonesia
•
10 Mar 2023

Laporan sebut China masuk jajaran 10 negara paling inovatif
Indonesia
•
24 Nov 2023
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
